Header Ads

insan

Ukhti, Izinkan Aku Mencintai Suamimu


Oleh Toifah*
“Mencintai suami orang secara sah adalah fitrah, bukan pelakor”

Sepenggal kalimat dari tetangga sebelah tersebut menjadi menggelitik mengingat tren istilah pelakor (perebut laki orang). Belakangan istilah ini dibawa ke ranah syariat. Oh, jelas. Karena dalam Islam terdapat fikih yang mengatur pernikahan atau rumah tangga, fiqh munakahat. Dewasa ini, selain maraknya praktik poligami yang dihendaki oleh pria, lalu muncul pula fenomena wanita yang menghendaki untuk dipoligami.

Dalam hal pengajuan diri untuk menjadi istri kedua atau ketiga atau keempat, akhwat ini seringkali mengatakan Mencintai suami orang secara sah adalah fitrah, bukan pelakor sebagai alibi. Bagi yang tidak menerima statement ini, maka akan disebut dengan istilah propaganda feminis yang menyerang syariat poligami.

Memang, rasa cinta atau benci dalam hati manusia semuanya merupakan fitrah. Allah yang membolak-balikkan hati manusia. Tapi bukan berarti menjadi pelakor syariah merupakan hal yang dikehendaki Tuhan juga, kan?.

Kalau pun ia memang terjadi, jika saja hal tersebut terjadi kepada kita para wanita (atau mungkin juga berlaku untuk lelaki), cukup simpan rasa cinta itu dalam hati, lalu kembalikan kepada Dzat yang memiliki rasa, Allah SWT. Karena jika perasaan kita sampai terucapkan kepada istri yang bersangkutan, tidak menutup kemungkinan resiko yang didapat akan lebih besar dan tidak lebih baik.

Menurut Ustaz Tri Asmoro Kurniawan (Konsultan Nasional Keluarga Sakinah) dan sebuah pengajian di Masjid An-Nur Madegondo, Grogol, Sukoharjo, Solo pada tanggal 05 Februari 2019, ia secara terang-terangan mengatakan boleh mencintai suami orang, bahkan boleh mengungkapkannya.

Ia menganggap enteng kalimat yang dicontohkannya sebagai berikut; Saya menjadi istri kedua tanpa merusak hubungan atau membuatnya cerai dengan istri pertamanya.
Jika orang awam mendengan kalimat tersebut, tentu kesimpulan praktis yang didapat adalah bahwa mencintai suami orang atau menikah dengan suami orang tanpa membuatnya cerai (poligami) adalah sah-sah saja tanpa ada urusan panjang dengan siapapun, yang penting hasrat memiliki terpenuhi.

 Memang benar, tidak ada satu orang pun yang berhak mengatur perasaan manusia lainnya. Tapi berlaku dan bersikap wajar terhadap orang yang sudah berumah-tangga itu lebih penting.

Sekali lagi, jika kita masih waras, kembalikan rasa itu kepada Allah. Jika kita terus memperbaiki kualitas diri kita, Allah pun akan memberikan yang berkualitas untuk kita tanpa harus dengan jalan menyakiti hati orang lain.

Bahkan bisa jadi, ketika kita sudah mengikhlaskan seseorang yang kita kagumi atau kita harapkan, ada harapan kita akan mendapatkan yang lebih baik dari orang tersebut. Dengan catatan, kita memperbaiki diri secara maksimal dan tidak lagi memikirkan perasaan kepada orang yang sudah beristri atau bersuami. Santai, jodoh ngga akan ke mana kok.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.