Header Ads

insan

Pesantren Sumber Spiritual Islam Dulu, Kini dan Nanti


Pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional Islam yang konsen dalam mempelajari, memahami, mendalami, menghayati serta mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari. Moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari ini tercermin pada suatu sikap dan perilaku yang mengarah pada ajaran tentang tazkiyatun nufus [pembersihan hati] dan ajaran tentang fadha’il al-a’mal [keutamaan perilaku]. 
Sikap dan perilaku yang selalu mengarah pada tazkiyatun nufus seperti sabar, syukur, ikhlas pada akhirnya akan membentuk suatu nilai spiritualitas. Nilai spritualitas inilah yang kelak akan menjadi sumber kearifan dan kebijaksanaan dalam memutuskan segala sesuatunya bagi santri apabila telah kembali ke masyarakat. Sedangkan sikap dan perilaku yang mengarah pada ajaran tentang fadha’il al-a’mal berupa ritual-ritual mulia seperti sejumlah ibadah sunnah sebagai sebuah ibadah pelengkap terhadap ibadah wajib yang telah ditentukan dalam syariah dan berupa akhlak yang mulia seperti ketaatan terhadap guru akan membentuk perilaku terpuji yang sangat diharapkan dan diimpikan masyarakat untuk menjadi teladan dan contoh. 
Nilai-nilai spiritual yang senantiasa diyakini dan diajarkan oleh para kiai pesantren dalam tahap tertentu menjadi bekal berharga bagi pengikutnya untuk menghadapi modernitas dan kemajuan zaman. Hal ini karena nilai-nilai tersebut tidak pernah tidak relevan bahkan kecenderungannya dari waktu ke waktu semakin banyak orang yang mengharapkan curahan nilai-nilai spiritual untuk membimbing hidup mereka. Semangat untuk membekali diri dengan nilai-nilai spiritual ini juga menjadi sarana untuk membangun sebuah konstruksi identitas yang melampaui pintu-pintu pesantren.
Nilai spiritualitas yang diajarkan di Pesantren diidentikkan dengan tasawuf. Tasawuf dalam konteks modern sebetulnya memiliki posisi menarik, tasawuf ini merupakan bidang yang sangat potensial untuk memupuk rasa keagamaan para santri dan menuntun mereka kearah budi pekerti mulia. Hal ini [memupuk rasa keagamaan dan menuntun kearah budi pekerti mulia] pada hakikatnya merupakan tujuan mempelajari tasawuf dan sekaligus tujuan belajar di pesantren. Karena membentuk budi pekerti mulia dan memupuk rasa keagamaan adalah inti dari pelajaran tasawuf yang juga menjadi tujuan utama pendidikan pesantren maka tidak salah jika pesantren dikatakan menjadi pusat spiritualisme. 
Pesantren sebagai pusat spritualisme menurut Gusdur adalah karena kehidupan pesantren yang diwarnai oleh asketisme yang dikombinir dengan kesediaan melakukan segenap perintah kyai guna memperoleh berkah kyai, sudah barang tentu memberikan bekas yang mendalam pada jiwa seorang santri, dan bekas inilah yang pada gilianya nanti akan membentuk sikap hidupnya sendiri. Sikap hidup bentukan pesantren ini, apabila dibawakan kedalam kehidupan masyarakat luar, sudah barang tentu pula akan menjadi pilihan ideal bagi sikap hidup rawan yang serba tak menentu yang merupakan ciri utama kondisi serba transisionil dalam masyarakat dewasa ini
Pesantren sebagai pusat spirtualisme juga mempunyai hubungan timbal balik dengan masyarakat diluar pesantren. Hubungan timbal balik antara pesantren dan masyarakat luar ini meiliki dua tugas yaitu mengatur bimbingan spiritual dari pihak pesantren kepada masyarakat dalam soal-soal perdata agama (perkawinan, waris dll), dan soal ibadat ritual, dan pemeliharaan materil-finansil oleh masyarakat atas pesantren (dalam bentuk pengumpulan dana dll). 
Pesantren sebagai pusat spritualisme Islam di Indonesia pada masa penjajahan menunjukan bukti dan kebenarannya, bagaimana tidak, .? spritualisme Islam mampu membangkitkan nasionalisme dan menggerakan rakyat untuk melawan kolonial, tak pelak pada zaman penjajahan, pesantren menjadi basis perjuangan kaum nasionalis pribumi.Banyakperlawananterhadapkaumkolonial yangberbasispadaduniapesantrendantarekat. Sedertan tokoh yangmenyandanggelarPahlawan yangberjasa dalam proses perjuangan melawan penjajah banyak bermunculan dari figur para kyai kyai Pesantren. Diantranya adalah; Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Sultan Hasanuddin, Hadrotus Syekh KH Hasyim Asyari, KH Ahmad Dahlan dan tokoh-tokoh lainnya. Fakta sejarah ini semakin menguatkan argumentasi bahwa pesantren di Indonesia tidak bisa dianggap sebelah mata, dan menjadi jelaslah bahwa Pesantren selalu terbukti mampu menjadi sumber spiritual bagi bangsa Indonesia dulu, kini dan nanti.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.