Header Ads

insan

Gus Dur Sudah Terbiasa Hidup Sulit Sejak Kecil


Pada 13 Januari 2018 saya berkesempatan berdialog langsung dengan KH. Mustafa di Pesantren Ayatirrahman Desa Parung, guna memenuhi syarat akademik. Setiba di padepokan (pesantren) narasumber, saya merasakan ketenangan seperti di kampung halaman saya.
Para santri berjuang untuk menghafal Alquran dan sebagian ada yang muraja’ah. Beliau ini seorang kiai dan hafal Alquran, kemudian saya dipersilakan santri untuk masuk ke dalem (rumah) dan disuguhi berbagai jamuan. Sebelum wawancara dimulai sebagaimana tradisi NU saya disuruh oleh narasumber (kiai) untuk makan terlebih dahulu, biar pembicaraan menjadi cair.
Sambil minum teh dan nyemil dialog pun dimulai, jadi wawancara berjalan dengan santai tapi sesuai target. Salah satu pembicaraan kami yaitu membahas tentang kepribadian Gus Dur. Beliau menceritakan bahwa Gus Dur telah terbiasa hidup susah sedari kecil, sehingga jiwa kemanusiaannya terpanggil dari sini.
Menurut beliau, ketika KH. A. Wahid Hasyim  meninggal dunia, Gus Dur (pada saat usia SD) membantu ibunya mencari nafkah untuk adik-adiknya. Ketika ayahnya meninggal ibunya sedang hamil empat bulan dan lima adik yang lainnya. Sehingga ini menjadi perhatian Gus Dur yang serius. Beban ekonomi keluarga berpindah ke tangannya. Gus Dur membantu ibunya untuk menjual beras dan menawarkannya kepada ibu-ibu.
Ketika itu Gus Dur membelinya di luar kota untuk sebagai tengkulak untuk kemudian dijualnya kembali. Lokasi tempat membeli beras jauh dari kontrakan Gus Dur, sehingga untuk menghilangkan lelah sesekali Gus Dur singgah di masjid. Selain beban ekonomi, Gus Dur juga harus sekolah, sampai beliau SD beliau pernah tidak naik kelas satu kali, karena jarang masuk kelas.
Gus Dur beserta ibu dan adik-adiknya mengontrak rumah selama 15 tahun dengan 7 kali pindah kontrakan. Secara emosinal kondisi seperti ini membuat Gus Dur terpanggil rasa kemanusiaannya. Tidak selesai sampai di sini, sesuai dengan tradisi NU yaitu nyantri di pesantren. Ibunya (Hj. Solichah) merasa terpanggil untuk memasukkan Gus Dur ke pendidikan pesantren.
Gus Dur dimasukkan ibunya ke pendidikan pesantren Mbah Khudlori, beliau sangat antusias menerima cucu dari gurunya (KH. M. Hasyim Asy’ari). Ketika masuk pesantren, “penderitaan” tidak berakhir. Dimulailah babak selanjutnya, Gus Dur ditempatkan oleh KH. Khudlori di samping kamarnya, beliau merasa bertanggung jawab untuk mendidik Gus Dur dengan sungguh-sungguh.
Akhirnya oleh Mbah Khulori Gus Dur hanya dikasih waktu untuk tidur 4 jam dalam rentang waktu satu hari satu malam. Gus Dur selalu di suruh “dawuhi” oleh Mbah Khudlori. Hilir tamu berdatangan ke kediaman Mbah Khudlori setiap hari, Gus Dur diposisikan (diajarkan) untuk mental ngelayani.
Jadi Gus Dur tidak “ongkang-angkang kaki” mentang-mentang beliau cucu pendiri NU. Gus Dur disuruh oleh Mbah Khudlori untuk membantu “ngelayani” para tamu beliau setiap hari. Tidak sampai di situ, Gus Dur juga diminta beliau untuk ikut membersihkan rumahnya, sehingga mental untk ngelayani dan ngemong betul-betul ditanamkan.
Selain hal di atas, ketika Mbah Khudlori bepergian hampir selalu mengajak Gus Dur untuk menemaninya sebagai asisten pribadi. Hal tersebut dilakukan oleh Mbah Khudlori untuk memperkuat mental Gus Dur. Dalam hal pendidikan Mbah Khudori juga tidak membiarkan begitu saja, Gus Dur di-“jejali” berbagai macam kiab kuning untuk dipelajari. Sejak kecil memang Gus Dur gemar sekali membaca buku, dari buku yang ringan sampai yang besar.
Pada saat usia SD Gus Dur telah membaca buku karya Karl Mark, yang juga berpengaruh terhadap pemikirannya di masa mendatang. Mental yang kuat dan terbiasa untuk melayani ini juga menjadi berengaruh terhadap kepribadian Gus Dur. Beliau menaruh empati yang tinggi terhadap siapa pun yang membutuhkan. Mental tersebut juga telah diwarisi dari keluarganya, mental untuk memberi dan berbagi.
Setelah menikah pun, Gus Dur juga pada posisi yang tidak nyaman. Beliau tinggal di kontrakan 5 tahun dan pindah 7 kali. Hal tersebut bukanlah hal yang mudah, dengan membawa anaknya yang masih kecil. Shinta Nuriyah, istrinya, juga ikut membantu dalam perekonomian keluarga. Dalam kondisi seperti ini juga Gus Dur selalu membantu mereka yang membutuhkan. Keadaan seperti diatas membuat Gus Dur tuff dan mempunayi jiwa sosial yang tinggi.
KH Mustafa merasa angat beruntung telah bersama dengan Gus Dur selama ini, beliau merasa soosok Gus Dur masih ada setiap hrinya di tengah-tengah mereka meskipun Gus Dur telah meninggal. Beliau menuruturkan, Gus Dur adalah bapak yang tauladan dan sangat ngemongkepada anak-anaknya.
Menurut beliau, Gus Dur mempunyai banyak kepribadian. Pertama, kuat mental tapi tidak merasa benar sendiri. Kedua, berjiwa besar. Ketiga, bersahaja. Gus Dur dengan siapa pun bersikap ramah dan dapat mencairkan suasana hening dengan guyonan-guyonannya. Keempat, dermawan. Suatu ketika beliau dapat honor dari menulis yang dikirim oleh pos, saat itu pula ada orang minta bantuan. Kemudian, Gus Dur memberikan honor yang barusan ia terima tanpa membukanya terlenih dahulu amplponya. Kelima, sederhana. Gus Dur selalu berpakain sederhana meskipun ketika itu beliau telah menjadi ketua PBNU dan Presiden.
Keenam, cendekia, beliau sangat luas pengetahuannya. Ketujuh, tidak pandang bulu. Ketika Gus Dur telah menjadi “orang besar” setiap hari didatangi tamu-tamu dari berbagai kalangan. Pada suatu ketika ada salah seorang tamu yang mengaku dekat dengan Gus Dur, tanpa membuat janji ketemu terlebih dahulu, orang itu langsung “nyelonong” bertemu Gus dur. Apa yang dilakukan Gus Dur? Gus Dur menyuruh orang tersebut untuk antre sesuai urutan.
Dari keterangan diatas dapat disimpulkan orang bisa menjadi besar tentunya melalui proses yang sangat panjang dan berlika-liku. Justru dengan demikian dapat membuat kuat mental ketika di terjang badai yang besar.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.