Header Ads

insan

Wajah Santun Dakwah Nabi Muhammad


Sekalipun kebenaran ada pada pihaknya, -tidak ada yang meragukan itu- Rasul s.a.w. tidak pernah menyampaikan kebenaran itu dengan menyakiti perasaan orang yang diajaknya atau diajarnya. Ini yang mestinya diteladani bagi para pendakwah atau setidaknya penyampai "kebenaran". Benar sudah pasti, tapi tak ada kata-kata kotor menyertai, tak juga ada kemarahan yang mengikuti, " ngotot" bukan gaya Nabi, menyindir pun selalu Nabi s.a.w. jauhi, tak satupun tersakiti dari makhluk mulia ini. Buktinya;
Dalam Shahih al-Bukhari di kitab Shalat Tahajjud, Nabi s.a.w. pernah memberikan nasihat kepada para sahabat untuk tidak mengikuti 'fulan'; sebab si "Fulan" malam hari bangun, tapi tidak shalat. Maksudnya kalau bangun di malam hari, sempatkan shalat malam. Jangan ikuti perilaku si "Fulan" yang jelas terindikasi buruk oleh Nabi s.a.w.. hebatnya tak ada nama yang disebut Nabi s.a.w., walaupun beliau tahu siapa yang bangun tapi tidak shalat, tak disebutnya nama orang tersebut, agar tidak diketahui orang lain sehingga sahabat lain memandangnya rendah, akhirnya si "Fulan" jadi malu.
Itu Nabi s.a.w., menutupi aib orang lain, tak pernah mengajak orang lain "ngerasani" saudaranya sendiri sesama Islam.
Muslim bin al-Hajjaj dalam Shahih-nya pun pernah meriwayatkan cerita rumah tangga Nabi s.a.w., yang pulang ke rumah sayyidah 'Aisyah, lalu bertanya tentang ketersediaan makanan di rumahnya. Ternyata, tidak ada makanan yang bisa dimakan. Nabi s.a.w. marah? Tidak! Justru Nabi s.a.w. membalas: "ya sudah kalau gitu saya puasa saja." hmmm... Mungkin beda ceritanya kalau itu terjadi di rumah saya. Owh bukan tidak mungkin saya akan marah, bahkan marah dengan plus-plus-nya.
Ya itu Nabi s.a.w., di tempat yang 'wajar' marah, tapi justru memilih ibadah.
Lebih jauh lagi, Nabi s.a.w. yang diriwayatkan oleh semua ulama sunan (Abu Daud, al-Tirmidzi, al-Nasa'i juga Ibn Majah) termasuk al-Bukhari dan Muslim bin al-Hajjaj, beliau s.a.w. menetapkan hukum bagi mereka yang meninggalkan shalat. Beliau katakan; "siapa yang tidur atau lupa sehingga meninggalkan shalat, maka baginya mengganti shalat itu ketika ia sadar/bangun". Maksudnya wajib qadha shalat bagi yang meninggalkan shalat karena tidur atau lupa.
Walaupun ada ulama yang mengamalkan secara tekstual, bahwa yang wajib qadha itu hanya orang lupa dan tidur. Tapi madzhab 4 sunni muktamad justru sepakat bahwa qadha itu wajib bagi mereka yang meninggalkan shalat, apapun alasannya. Lupa dan tidur yang masuk kategori tidak berdosa saja wajib qadha, apalagi yang meninggalkannya sengaja, tentu jauh lebih wajib lagi.
Imam Badr Al-Diin Al-'Ainy, seorang faqih Hanafiyah dalam kitabnya Syarhu al-Hidayah menjelaskan kenapa sebab Nabi s.a.w.  hanya menyebutkan orang tertidur dan lupa dalam hadits tersebut, kenapa tidak langsung saja Nabi s.a.w. mengatakan; [من ترك] "Siapa yang meninggalkan", bukan dengan redaksi; "lupa atau tertidur"?   Itu karena Nabi s.a.w. memperhatikan adab; karena meninggalkan sholat secara sengaja bukanlah prilaku seorang muslim. Karenanya, Nabi s.a.w. mengatakan seperti itu sebagai bentuk husnudzon (prasangka baik) kepada muslim. Akan tetapi hukum yang terkandung di dalam hadits tersebut tidak terbatas hanya untuk orang yang lupa atau tertidur, tapi justru untuk semua yang meninggalkan sholat, sengaja atau tidak.
Dengan bahasa yang lebih sederhana; "muslim itu (idealnya) tidak mungkin meninggalkan shalat. Kalaupun meninggalkan shalat, itu mesti karena ketidaksengajaan atau karena memang di luar kontrolnya; mungkin dia lupa atau mungkin juga dia ketiduran". Itu Nabi s.a.w., menyampaikan sambil mengajarkan baik sangka, dan adab.
Dan nyatanya, non-muslim pun diperlakukan sama oleh Nabi s.a.w., sama-sama tidak ada sindiran serta tak juga menyakiti perasaan. Lihat saja riwayat al-Bukhari dalam bab al-Isti'dzan; ketika ada seorang Yahudi datang ke rumah Nabi s.a.w.  sambil melempar salam dengan redaksi [السام عليك يا محمد] "kecelakaan bagimu, Muhammad". Mendengar sang suami dicela, sayyidah 'Aisyah marah. Dengan nada tinggi beliau membalas: [ وعليك السام واللعنة] "bagimu juga kecelakaan dan laknat Tuhan".
Mendengar sayyidah ‘Aisyah yang marah, Rasul kemudian berkata kepadanya: “tenang saja wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah s.w.t. cinta kelemah lembutan dalam segala perkara”. Kemudian Nabi s.a.w. menjelaskan, bahwa menjawab salam seperti itu cukup dengan kalimat “wa’alaikum”, tidak perlu marah sambil melaknat. Karena memang Allah s.w.t. cinta kesantunan dan kelemah lembutan dalam segala perkara. Lihat bagaimana luhurnya akhlak Nabi s.a.w., bahkan kepada non-muslim sekalipun, beliau tidak membalas dengan murka.
Terakhir, coba kita buka lagi buku sejarah, tentu kita hapal betul tentang surat-surat Nabi s.a.w. kepada para raja-raja guna mendakwahkan Islam. Dari mulai Muqouqis (Penguasa Mesir), Hiraql (Raja Rum), Kista (Petinggi Persia), al-Mundzir (Pemangku Bahrain), sampai al-Najasyi (Etiophia), hapal redaksi surat beliau s.a.w.?
Adakah kalimat murka, laknat sambil menghakimi bahwa mereka raja zalim yang mengajak penduduknya menuju kesengsaraan? Tidak. Justru beliau s.a.w. mengajak dengan penuh kesopanan dan tetap mengakui kedudukan mereka sebagai raja, bahkan di awal suratnya beliau selalu menuliskan 'jabatan' si tertuju surat, padahal mungkin saja kepemimpinannya diraih dengan jalan yang Islam tidak meridhai itu, tapi Nabi s.a.w. tetap menghormati itu.
Itu Nabi s.a.w., bisa Santun kepada siapapun dan memang itu misi beliau dari Allah s.w.t.
Maka silahkan berdakwah, dengan baik, santun. Sekreatif mungkin dengan gambar mungkin, meme, tapi tetap menghormati perbedaan dalam masalah yang memang boleh berbeda. Dan jelas tidak perlu dengan memasang dambar 'api'; toh tidak ada yang bisa memastikan, bahwa yang didakwahi itu di ujung hayatnya akan  terkena 'api', sebagaimana juga tidak ada yg bisa memastikan bahwa si pendakwah itu akhir hayatnya selamat dari 'api'.
Wallahu al-Musta'an

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.