Header Ads

insan

Kajian Sejarah Nabi Dalam Karya KH Hasyim Asy’ari 4 : Bab kelahiran Nabi Muhammad dan Pertumbuhanya 1

Pada kajian kali ini, penulis akan membahas tentang kelahiran orang yang paling mulia didunia dan akhirat, yaitu nabi Muhammad SAW dan pertumbuhannya sesuai yang termaktub dalam kitab Irsyadul Mukminin karangan KH Hasyim As’ari.
KH Hasyim Asy’ari memulai pembahasan kitabnya dengan menerangkan bahwasanya nabi Muhammad SAW lahir dari kedua orang tuanya yang faqir, yaitu Abdullah dan Aminah, bapaknya wafat menjelang dua bulan kelahiranya, hal inilah menurut sepakat riwayat. Para ulama sepakat bahwasanya nabi Muhammad lahir pada hari senin, bulan Robiul Awal tahun Gajah, akan tetapi mereka berselisih dalam tanggal kelahiranya, ada yang mengatakan tanggal dua, tanggal delapan, tanggal sepuluh, dan tanggal dua belas. Menurutnya keempat pendapat tersebut adalah yang masyhur meurut para ulama’.
Kemudian KH Hasyim Asy’ari mengutip pendapat Hakim Abu Ahmad, yang menyatakan bahwasanya nabi Muhammad lahir pada hari senin, diangkat menjadi nabi pada hari senin, hijrah meninggalkan kota mekah pada hari senin, dan memasuki kota madinah pada hari senin, 12 robiul awal, meninggal pada waktu dhuha, hari senin tanggal 12 robiul awal, tahun 11 H, dan berusia 63 tahun.

KH Hasyim Asy’ari juga menyebutkan riwayat lain mengenai pendapat yang menyatakan bahwasanya bapaknya meninggal ketika beliau dalam kandungan ibunya, bapaknya Abdullah meninggal di kota suci Madinah disamping pamannya, Bani Nujjar.Kemudian dimakamkan di tanah Abwa’. Ketika Nabi berusia 6 tahun, ibunya meninggal dan dimakamkan di Abwa’ juga. Kota Abwa’ adalah suatu tempat yang berada diantara kota Mekah dan Madinah.kemudian beliau diasuh oleh kakeknya, Abdul Mutolib sampai usianya delapan tahun, kemudian sepeninggal kakeknya, pamanyalah yang mengasuhnya. Pada usia 40 tahun nabi diangkat menjadi rosul dan menempati kota mekah selama 13 tahun, kemudian hijrah ke Madinah dan tinggal selama 10 tahun, sampai beliau meninggal.

Menurut Prof Qurais Shihab bahwasanya kelahiran nabi itu pada senin malam menjelang fajar, Aminah hanya ditemani jariyahnya saja yaitu Barokah Ummu Aiman, ada juga riwayat yang kelahiran Aminah dibantu oleh seorang bidan yang bernama As-Syafa. Kemudian pada hari ketujuh dari kelahirannya, kakeknya, Abdul Mutholib menyebelih beberapa ekor binatang dan menjamu kerabatnya, ketika itu ia ditanya mengapa putra Abdullah itu dinamai dengan nama Muhammad, sangat berbeda dengan nama leluhurnya, kemudian beliau menjawab aku mengharap dia terpuji berkali-kali dilangit dan dibumi. Hal ini berbeda dengan Mahmud atau Hamid yang artinya terpuji walau hanya sekali.

Berkaitan dengan pemberian nama, Imam Abdurahim Bin Qodhi menuturkan bahwasanya nabi Muhammad dialam malakut biasa dipanggil dengan sebutan ahmad, karena nama Ahmad mengindikasikan gerakan dalam sholat, احمد bediri seperti alif, rukuk seperti ha’. Sujud seperti mim dan dal, duduk tasyahud seperti huruf dal. Beliau juga menuturkan bahwasanya Allah akan menciptakan mahluk seperti tulisan Muhammad, محمد mim menunjukan kepala, ha’ menunjukan badan, mim menunjukan perut, dal menunjukan dua kaki, agar lebih jelas tulisan lafal muhamad yang horizontal ditulis dengan posisi vertikal, maka akan sangat terlihat jelas bahwa bentuk manusia seperti lafal Muhammad.

Menurut Imam Nawawi Al-Bantani dalam kitabnya Nurul Dholam bahwasanya menurut pandangan Ahlus Sunah Waljamah, nasab nabi Muhammad di jalur bapak cukup disebutkan sampai Adnan saja, dan nasab nabi Muhammad dari jalur ibu cukup disebutkan sampai Kilab saja. Hal ini karena nasab setelah itu masih terjadi khilaf diantara juru badhe (ahli pernasaban) tentang nasab nabi Muhammad setelah Adnan dan Kilab.

Prof. Said Romandhon Al-Buti mengingatkan kepada kita bahwa diantara konsekuensi mencintai Rasulullah Saw ialah mencintai kaum dan kabilah di mana Rasulullah saw lahir, bukan dari segi individu dan jenis, tetapi dari segi hakekat semata. Ini karena hakekat Arab Quraisy telah mendapatkan kehormatan dengan bernasabkan Rasulullah saw kepada kabilah tersebut. Hal ini tidaklah bertentangan dengan adanya orang-orang Arab atau Quraisy yang menyimpang dari jalan Allah, dan merosot tingkat kehormatan Islamnya. Karena penyimpangan atau kemerosotan ini secara otomatis akan memutuskan dan menghapuskan kaitan nisbat antara mereka dan Rasulullah saw.

Bukan suatu kebetulan jika Rasulullah saw dilahirkan dalam keadaan yatim, kemudian tidak lama kehilangan kakeknya juga, sehingga pertumbuhan pertama kehidupannya jauh dari asuhan bapak dan tidak mendapat kasih sayang dari ibunya. Allah telah memilihkan pertumbuhan ini untuk Nabi-Nya karena beberapa hikmah.

Diantaranya agar musuh Islam tidak mendapatkan jalan untuk memasukkan keraguan ke dalam hati, atau menuduh bahwa Muhammad saw telah mereguk pengetahuan dakwah dan risalahsemenjak kecilnya, dengan bimbingan dan arahan bapak dan kakeknya. Sebab kakek Abdul Mutolib adalah seorang tokoh di antara kaumnya.Kepadanyalah tanggung jawab memberikan jamuan makan dan minum para hujjaj diserahkan. Adalah wajar bila seorang kakek atau bapak membimbing dan mengarahkan cucu atau anaknya kepada warisan yang dimilikinya.

Allah telah menghendaki agar musuh-musuh Islam tidak menemukan jalan kepada keraguan seperti itu, sehingga Rasul-Nya tumbuh dan berkembang jauh dari tarbiyah(asuhan) bapak, ibu, dan kakeknya. Bahkan masa kanak-kanaknya yang pertama, sesuai dengankehendak Allah swt, harus dijalani di pedalaman Bani Sa’d jauh dari seluruh keluarganya.Ketika kakeknya meninggal, ia berpindah kepada asuhan pamannya, Abu Thalib, yang hidup sampai tiga tahun sebelum hijrah. Sampai akhir kehidupannya , pamannya tidak pernah menyatakan dirinya masuk Islam. Ini juga termasuk hikmah lain, agar tidak muncul tuduhan bahwa pamannya memiliki pengaruh di dalam dakwahnya.

Demikianlah Allah menghendaki agar Rasulullah saw tumbuh sebagai yatim, dipelihara oleh inayah Allah semata, jauh dari tangan-tangan yang memanjakannya, dan harta yang akan membuatnya hidup dalam kemegahan, agar jiwanya tidak cenderung kepada kemewahan dan kedudukan. Bahkan agar tidak terpengaruh oleh arti kepemimpinan dan ketokohan yang mengintainya, sehingga orang-orang akan mencampur-adukkan kesucian nubuwah dengan kemegahan dunia, dan agar orang-orang tidak menuduhkan telah mendakwahkan nubuwwah demi mencapai kemegahan dunia.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.