Header Ads

insan

Ad-Dhuha; Penghibur Duka, Mengembalikan Asa.



Oleh Fayad R.
Bisakah kita melupakan Tuhan?
Pertanyaan itu tidak perlu dijawab karna hakikatnya kita tak akan pernah "melupakan" Tuhan bagaimana pun keadaan kita dan serumit apa pun masalah yang kita alami. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan dari sekian banyak masalah atau pun duka yang kita alami, seringkali kita beranggapan bahwa "Tuhan telah melupakan kita". Setiap keresahan yang datang, kita hanya berburuk sangka bahwa kehadirat Tuhan yang kita puja-puji selama ini hanyalah mimpi yang tak kesampaian.
Fenomena yang sedemikan rupa, tidak jarang kita jumpai dalam realita sosial. Setiap permasalahan yang terjadi, kita hanya memojokkan Tuhan. "Tuhan yang salah" "Tuhan tak pernah adil" dan bentuk kata keluhan lainya  seringkali kita_begitu pun penulis_mendengar di sekeliling kita. Apa kita tidak pernah berfikir seberapa banyak nikmat yang Tuhan berikan kepada kita? Pernahkah kita mensyukuri nikmat_Nya?
Tentu "tidak pernah"_bagi orang yang berfikir demikian (tuhan telah meninggalkan kita). Karna mereka hanya meminta, bahkan lebih dari sekedar meminta, tanpa bersyukur walau sebatas berterimakasih saja. Sehingga saat nikmat tidak datang, secara langsung mereka beranggapan bahwa tuhan telah meninggalkan mereka, dan karena keresahan demi keresahan itu, mereka pun meninggalkan Tuhan. Mereka tidak sadar bahwa semakin meninggalkan Tuhan semakin membuat kita merasakan apa yang di namakan duka lara.
Lantas dari sekian banyaknya duka yang setiap hari kita rasakan. Pernahkan kita berfikir, tentang bagaimana Allah SWT memberi penawar duka kepada seorang hamba?
Tentang keresahan, semua hamba Tuhan mesti pernah merasakannya dalam kehidupan. Karna hidup mesti berputar, ada senang ada susah, kadang bahagia kadang duka. Itulah roda kehidupan. Nabi Muhammad SAW. Yang diyakini sebagai hamba Tuhan yang paling mulia di muka bumi ini, juga merasakan kegelisahan dalam hidupnya.
Peristiwa itu bermula saat jibril tidak kunjung datang menyampaikan wahyu dari Allah. Nabi gelisah, sebab bagaimana tidak, seorang Nabi yang telah merasakan nikmatnya berdialog langsung dengan Allah, tiba-tiba nikmat itu tak kunjung datang. Kemudian kabar itu didengar oleh orang musyrikin, sehingga mereka berkesimpulan bahwa "Muhammad telah ditinggalkan oleh Tuhannya". Bahkan boleh jadi Nabi Muhammad merasakan ada sesuatu sehingga Allah tidak lagi menurunkan wahyu_Nya.
Itulah saat Rasulullah Jauh dari Allah SWT. Rasulullah merasa bahwa Allah membencinya dan tidak menginginkan ia menjadi nabi lagi. Dan berbagai kegelisahan dan fikiran berkecamuk di dalam hati dan jiwanya. Dan ketika Rasulullah benar-benar berada di dalam kegelisahan maka turunlah surah ad-Dhuha untuk menenangkan hati Rasulullah yang sedang gelisah begitupun juga untuk membantah perkataan orang musyrik tentang "Tuhan Muhammad telah meninggalkan dan membencinya".
Surah ad-Dhuha di sepakati oleh ulama turun sebelum Nabi hijrah ke madinah. Nama ad-Dhuha diambil dari ayat pertamanya yang berarti "waktu matahari naik sepenggalahan"
Dalam surah ad-Dhuha, Allah Swt mengawalinya dengan sebuah sumpah dengan waktu dhuha dan waktu malam "demi waktu matahati sepenggala naik, dan demi waktu malam"
Pernahkah terlintas di benak kita mengapa Allah bersumpah dengan kedua waktu tersebut? Beberapa ahli tafsir berpendapat bahwa kedua waktu tersebut adalah paling baiknya waktu setiap harinya. Imam Ar-Razy mengatakan jika Allah bersumpah demi sesuatu, itu berarti Allah mengagungkan sesuatu tersebut, serta kebesaran manfaat di baliknya. Dengan begitu, karena allah bersumpah demi waktu dhuha, itu menandakan bahwa waktu dhuha adalah waktu yang sangat penting.
Pada waktu itu Allah sedang mencari hambanya yang mendekatkan diri kepada_Nya. Ketika malam yang sunyi misalkan, seorang hamba bangun melawa rasa kantuk dan dinginnya malam hanya untuk menghadap sang Khaliq, mendekatkan diri dan mencari ridlo_Nya. Disitulah mengapa Allah mengistimewakan malam.
Begitupun pada waktu pagi, saat semua hamba Allah tengah sibuk dengan kehidupan duniawi, tidak menutup kemungkinan lupa akan tuhannya. Disitu bagi hamba yang tahu, pasti akan meluangkan waktunya untuk menghadap kepada_Nya. Hingga kemudian dikenal dengan istilah shalat dhuha. Jadi, Tidah salah jika ada adagium madura mengatakan "mun tedungan gulagguh eka jeu dhari rajekkeh" (jika tidur di pagi hari, akan menolak rezeki) sebab sudah allah beritakan mulianya waktu pagi dalam surah ad-Dhuha ini.
Lalu ayat selanjutnya "Tuhanmu tidak akan meninggalkan engkau(Muhammad) dan tidak pula membencimu (dengan sangat)" . Coba bayangkan, ketika kita di tinggalkan oleh orang yang sangat kita cintai begitu lamanya, hingga kita merasa kita sudah dia lupakan dan dia tidak cinta malah membenci kita. Lalu dia datang dan berkata "Aku tidak melupakanmu, aku tidak membencimu, dan aku sungguh mencintaimu". Apa yang kita rasakan?  Sebuah kebahagiaan yang teramat manis bukan? begitulah cara Allah memberi kebahagiaan kepada hambanya yang bersedih.
Jika dianalisa, dari ayat tersebut, seakan-akan Allah menenangkan Nabi Muhammad, begitu pun kepada kita dengan peristiwa waktu pagi dan malam. Apakah jika pagi hari ini datang, malam nanti tidak datang? Apakah jika malam ini datang, besok pagi tidak akan datang? Tentu dari yang kita alami, antara pagi dan malam akan selalu datang dalam kehidupan. Dari itu jika saat itu pernah datang suatu kenikmatan kepada kita, lalu saat ini atau kemudian hari kenikmatan itu tidak datang, mestinya kita tidak perlu ragu, karena masih ada hari besok kenikmatan itu akan datang. Itulah suatu bentuk kasih sayang Allah kepada kita dan tidak akan pernah meninggalkan apalagi membenci kita.
Selanjutnya Allah meneruskan "Dan yang kemudian itu lebih baik bagimu dari pada yang sekarang" Allah menjanjikan hari yang akan datang lebih baik dari situasi kita saat ini. bersama dengan mentari pagi yang bersinar di pagi hari (Dhuha). Keberhasilan yang akan datang itu akan lebih baik dari perjuangan dan keadaan yang kita alami saat ini.
Kemudian Allah melanjutkan janjinya dengan sebuah kepastian melalu firmannya "Walasaufa yu'tika rabbuka fatardha"(Qs. Ad-Dhuha ; 5). Dan sungguh, kelak tuhanmu pasti memberikan karuniannya kepadamu, hingga engkau menjadi puas. Coba kita lihat bagaimana Allah menjanjikan sebuah kepastian bahwa allah pasti memberikan karuniannya, menjanjikan sebuah kebahagiaan. Sampai disini, sudah sangat jelas bahwa Allah tidak membenci dengan kebencian luar biasa terhadap siapapun. Terlepas dari sebesar apapun dosanya dan se besar apapun murka_Nya.
Kemudian Allah lebih memperjelas janji-janjinya dengan bukti-bukti yang kita alami. "Bukankah Dia mendapatimu(Muhammad) sebagai seorang yang yatim, lalu Dia melindungimu" Adakah diantara kita yang lahir dalam keadan sudah besar? Bukankah kita dulu hanyalah seorang bayi? Lalu siapa yang membesarkan kita? Maka allah memberi pertolongan melalui orang tua kita.
"Dan Dia mendapatimu sebagai orang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk" Ingatkah kita disaat dulu kita mendapatkan hidayah? Atau dulu disaat kita masih kecil dan tidak tahu apa-apa? Siapa yang memberi hidayah? Siapa yang membimbing kita? Ini adalah bukti perhatian Tuhan kepada kita.
"Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan"
Begitulah Allah memberi alasan bahwa janjinya pasti akan Ia tepati. Melindungi orang lemah, memberikan orang yang sedang dalam kebingungan sebuah petunjuk. Atau mencukupi harta setiap hambannya. Ini adalah alasan-alasan yang allah sampaikan kepada Rasulullah saat itu dan kepada kita saat ini. Agar kita percaya bahwa apa yang telah Allah janjikan akan menjadi kenyataan.
Selanjutnya Allah berfirman "Maka terhadap anak yatim janganlah sewenang-wenang. Dan kepada orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardiknya"
Ayat ini merupakan sebuah larangan sekaligus gambaran kepada kita dalam berkehidupan sosial. Dalam realiata sosial, kita berkewajiban untuk menghargai orang yang kesusahan, yang diantaranya adalah anak yatim dan orang miskin (yang meminta-minta). Quraisy shihab mengatakan ayat ini di tujukan kepada nabi muhammad yang berasal dari anak yatim untuk tidak semena-mena kepada anak yatim. Dan tidak menghardik pula kepada orang yang meminta-minta ataupun bertanya. Karna nabi muhammad juga pernah bingung selama hidupnya. Dengan artian hal ini bisa dijadikan suatu pedoman untuk tidak sombong serta mensyukuri nikmat allah.
Disamping itu, Allah juga memberi gambaran kepada kita yang dirundung keresahan untuk mengingat 2 golongan ini. Ingatlah apa yang ada padamu, tapi tidak ada pada 2 golongan itu. Anak yatim tidak memiliki siapapun, Orang miskin(yang meminta-minta) tidak memiliki apapun. Lantas apa yang membuat kita bersedih? Kita masih memiliki orang di sekeliling kita yang masih mencintai kita. Dan kita masih memiliki makanan untuk di makan, masih memiliki rumah untuk kita tinggal. Lantas apa yang kita sedihkan? Menurut saya, hal yang paling harus kita tangisi adalah. Betapa jauhnya kita dengan Allah, betapa dosanya kita yang secara sengaja atau tidak telah memojokkan Allah, padahal Allah tidak pernah dan tidak akan pernah menjauhi kita.
Terakhir, Allah berfirman  "Dan terhadap nikmat tuhanmu. Hendaklah engkau beritakan"
Menurut beberapa ulama, kita dituntut untuk selalu memberitakan nikmat Allah. Kata "memberitakan" tersebut bisa berarti bersyukur. Semisal jika punya rezeki, kita memberitakan dengan memberi bantuan kepada orang lain yang membutuhkan. Atau paling tidak kita takpakkan rezeki tersebut terhadap Allah, dan Allah akan lebih senang. Semisal jika kita punya rezeki, bolehlah kita memakai pakaian yang bagus. Hal itu merupakan salah satu bentuk memberitakan, membicarakan atau bersyukur atas nikmat Allah SWT.
Sementara kata "Nikmat" para ulamak mengartikan sebagai "Tuntunan Agama" hal ini melalui pengamatan bagaimama allah menggunakan kata nikmat dalam al-Quran. Mereka berpendapat bahwa allah memakai kata nikmat dalam alquran itu dalam hal tuntunan agama. Dengan artian jika kita menyampaikan suatu tuntunan agama, berati kita sudah bersyukur.
Inilah surat "Ad-Dhuha". Surat paling mengagumkan dalam AL-Qur'an untuk di jadikan sebuah motivasi untuk selalu optimis dalam kehidupam Dan mengajarkan kita berbaik sangka, baik kepada sesama apalagi kepada Allah SWT.
Mari kita lihat indahnya mentari waktu dhuha, dan jadikan itu sebagai sinar baru untuk menerangi hati kita yang rirau dan maju kembali ke medan kehidupan.

Wallahu a'lam.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.