Header Ads

insan

Yang Boleh Menyandang Gelar Sufi

Fadh Ahmad Arifan*

Mengawali artikel ini, tidak susah mengetahui mana yang layak disebut ulama dan mana yang bukan ulama. Akan tetapi, amat susah jika ingin mengetahui mana sufi dan mana yang bukan sufi. Salah satu tokoh pers Indonesia, Rosihan anwar bercerita di dalam buku Sejarah kecil “petite histoire” Indonesia, Volume 2 (Kompas, 2009) : “Buya hamka menulis buku Tasawuf Indonesia. Oleh karena itusaya bertanya kepada Hamka, apakah beliau sufi?“. Dan pada awal tahun 1960-an beliau menjawab dalam bahasa Minang,”Ha indak, ambo mengaji-ngaji sajo” (Ya tidak, saya mengaji-ngaji saja). Jadi, Hamka menyangkal dirinya seorang sufi. Rosihan Anwar menambahkan,”Memang susah menjelaskan sufi dan tasawuf, apabila orang tidak menjalankannya dengan bergabung dalam sebuah tarekat yang dipimpin oleh seorang Syeikh.”
Tentang sufi, ada 3 teori munculnya pemakaian istilah atau gelar sufi. Berdasar tulisan Dr. Fahd bin Sulaiman al-Fuhaid tentang Sejarah Sufi (2012), bahwa orang yang pertama kali dikenal sebagai sufi adalah Abu Hasyim al-Kufi (wafat 162 H). Teori yang lain menyebutkan bahwa Abdak, singkatan dari Abdul Karim, (wafat 210 H) adalah yang pertama-tama menyebut diri sebagai sufi. Sementara Ibnu an-Nadim menyebutkan bahwa Jabir bin Hayyan (wafat 208 H), itulah yang pertama kali menamakan diri sebagai sufi.
Lantas, siapakah di dunia ini yang boleh menyandang gelar sufi? “Seorang sufi tidak menjadi sufi jika ada pada dirinya 4 perkara: malas, suka makan, suka tidur dan berlebih-lebihan”, kata Imam Syafi’i. Dalam buku Tasawuf dan Ihsan (Serambi, 2007), Abu al-Hasan al-Sirwani berkata :”Seorang Sufi adalah yang memperdulikan keadaan spiritualnya dan sekaligus amal-amal lahiriahnya”.
Jika mencermati definisi yang disuguhkan oleh Imam Syafi’i dan al-Hasan al-Sirwani, bisa dipastikan bahwa di dunia ini hanya ada dua jenis sufi. Seorang sufi yang hanif dan sufi gadungan (baca: palsu). Saya tidak tahu persis, lebih banyak mana antara sufi yang hanif dibandingkan sufi gadungan. Sufi yang hanif dalam kesehariannya menjauhi hal-hal yang tidak bermanfaat, tutur kata dijaga sebaik mungkin. Sehingga sepanjang hidupnya, dari bibir seorang sufi yang hanif hanya keluar nasihat atau petuah-petuah inspiratif. Sebelum munculnya para trainer dan motivator handal di televisi nasional, para sufi terlebih dulu mewariskan berbagai petuah-petuahnya.
Salah satu contoh Sufi yang hanif adalah Hasan al-Bashri. “Bila Allah menganugerahkan seorang anak kepada seseorang, ucapkan kepadanya, ‘Semoga anda bersyukur kepada Yang Maha Pemberi anugerah. Semoga anda diberi keberkahan sebab anak yang dianugerahkan. Semoga ia cepat dewasa dan semoga Anda dianugerahi kebaikannya.” kata Hasan al-Bashri dalam The wisdom of Hasan al-Bashri: Nasihat-Nasihat Penerang Hati (Serambi, 2008)
Sebelum menutup artikel ini, apakah menjadi sufi harus bergabung dalam tarekat tertentu? tidak mesti begitu. Faktanya, di dalam lembaran sejarah peradaban Islam, ada Fudhail bin Iyadh (wafat di Mekkah 187 H), sebelum menjadi sufi, beliau seorang perampok lalu bertaubat. Kemudian Rabi’ah al-Adawiyyah (lahir di Bashrah). Beliau menjadi sufi tanpa bergabung dalam tarekat sufi. Menurut Dr. Abu al-Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani dalam Sufi Dari Zaman ke Zaman (Penerbit pustaka, 1985), sebelum menjadi sufi, Rabi’ah adalah seorang hamba sahaya di keluarga Atik. Rabi’ah sezaman dengan Sufyan al-Tsauri. Wallahu’allam.
*Penulis adalah alumnus Fakultas Syariah UIN Malang

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.