Header Ads

insan

Teologi Islam, Antara Ketuhanan dan Kemanusaian

Oleh Ibnu Badri

Ilmu Tauhid atau teologi adalah sebuah ilmu yang membahas tentang tuhan, itulah yang penulis mengerti mengenai Ilmu Tauhid ketika masih belajar di sekolah dasar. Ketika itu yang diajarkan kepada penulis kebanyakan adalah kejadian-kejadian setelah kematian, seperti hari perhitungan, surga dan neraka. Akan tetapi setelah penulis belajar di sebuah Madrasah Diniyah yang mengupas sebuah buku yang cukup terkenal di kalangan umat Islam yang berjudul Kifayatul Awam, pemahaman penulis mengenai Ilmu Tauhid berkembang, ternyata cakupan Ilmu Tauhid tidak hanya berkaitan dengan pembahasan mengenai tuhan, lebih kompleks lagi ada bahasan mengenai cara pandang terhadap sahabat nabi, cara pandang terhadab nasab nabi dll.

Urgensi mempelajari ilmu ini sangatlah penting, dalam buku Kifayatul Awam dikatakan bahwa keyakinan seseorang yang masih Taqlid (tidak mengetahui landasan dalilnya) adalah belum cukup, sehingga keyakinan seseorang masih dipertanyakan. Oleh karenanya sebagai seorang muslim harus mempelajari ilmu ini dengan baik.

Sebagai contoh, dalam pandangan madhab Asya’ariyah, yang memperkenalkan konsep 20 sifat wajib bagi Allah, sifat wajib yang pertama adalah wujud, bahwa Allah itu sebagai esensi yang mutlak harus berwujud, nah sebagai pertanyaan bagaimanakan membuktikan bahwa Allah itu berwujud, Allah Itu Ada…? Jawaban terhadap pertanyaan inilah yang wajib bagi setiap muslim untuk mengetahuinya.

Penulis mengetahui bahwa, Ilmu tauhid dalam Islam adalah Teosentris, Itu artinya pembahasan ilmu teologi yang berpusat pada ketuhanan. Karena tuhan bersifat mutlak maka penafsiran terhadap tuhan bersifat sakral, karena kesakralan penafsiran inilah banyak terjadi perdebatan yang tak jarang sampai terjadi pengkafiran terhadap sesama muslim. Yang menurut pandangan penulis, adalah hal yang sangat haram untuk mengkafirkan sesama muslim.

Dan Karena kesakralan penafsiran mengenai tuhan ini, maka banyak juga diantara kelompok yang ingin memurnikan ajaran tuhan sehingga mereka memberantas penafsiran kelompok lain yang terindikasi TBC (Takhayul, Bid’ah dan Khurafat). Bahkan Mereka berani menghamtam kemapanan penafsiran tentang tuhan yang sudah mapan yang menjadi pegangan umat muslim di dunia.

Melihat banyaknya perdebatan yang tak jarang sampai terjadi pertumpahan darah yang mengatas namakan ajaran tuhan, maka banyak kelompok menjadi radikal dan intoleren terhadap kelompok lainnya. Kelompok radikal ini bahkan sampai meninggalkan sisi kemanusian demi menegakkan ajaran tauhid.

Mereka yang sudah terdoktrin akan berpandangan bahwa menegakan kalimat tauhid adalah segala-galanya walapun harus menghantam kemanusiaan. Mereka yang sudah terdoktrin seakan lupa bahwa memuliakan manusia adalah nilai dasar ke-Islam-an. Bahkan dikatakan dalam Al-Quran bahwa siapa yang membunuh manusia tanpa alasan, amatlah berat siksanya. Padahal melindungi nyawa manusia adalah salah satu tujuan dari diterapkan Syariat Islam.

Tauhid Islam adalah teologi teosentris yaitu teologi yang berpandangan bahwa tuhan merupakan sentral dari kehidupan manusia, hanya kepada tuhanlah manusia mengabdi dan memohon, hanya tauhidlah yang hanya bisa mengantarkan manusia memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Akan tetapi teologi yang bersifat teosentris ini, dilihat dari sejarahnya banyak menimbulkan perdebatan yang berujung pada pembantaian manusia, tak pelak hal ini menimbulkan kecemasan beberapa sarjana muslim. diantara yaitu Hasan Hannafi.

Hasan Hannafi berpandangan bahwa teologi yang bersifat teosentris itu bermasalah karena kalam tuhan mengenai Qodim atau Jadid hanya menimbulkan pertentangan dan bahkan sampai terjadi pembunuhan diantara kaum muslim, maka pada era sekarang, lebih tepat untuk menjadikan Ilmu Tauhid sebagai objek kajian ilmu-ilmu kemanusiaan  yang modern.

Rekaman sejarah telah  memperlihatkan kepada kita bahwa perdebatan mengenai Ilmu Tauhid ini telah menimbulkan perdebatan dan gesekan sesama muslim, bahkan tak jarang sampai terjadi pertumpahan darah, lihat saja pembantaian Ahlul Bait di Karbala, pembantaian Bani Umayah oleh Bani Abbasiyah, bahkan sampai mayat-mayat Bani Umayah yang telah dikubur kembali digali dan diarak dan dihancurkan, mereka tidak berhak dimakamkan di bumi. Dimanakah nilai kemanusiaan…?

Jikalau lagi jika kita melihat perdebatan teologi diantara Mu’tazilah, Syiah, Murjiah, Qodariah. Juga kalo kita amati diakhir abad ke 18 muncul suatu paham yang melakukan pembaharuan-pembaharuan dengan mengatasnamakan pemurnian tauhid yang menimbulkan gesekan sesama muslim, dimulai dari hal sederhana yaitu tidak mau saling sapa diantara warga negara karena perbedaan cara pandang terhadap tauhid, bahkan ada suatu kasus, seorang warga mencuci kembali pakaiannya yang telah dijemur hanya karena pakaian tersebut diangkatkan oleh tetangga yang berbeda pandangan tauhidnya.

Dengan melihat realitas ini Hasan Hannafi menawarkan suatu konsep Ilmu Tauhid yang berpusat kepada sisi kemanusiaan, atau Ilmu Tauhid yang antroposentris, bukan teosentris.  Menurutnya, manusia adalah sentral segala kehidupan, untuk menghadapi realitas kontenporer manusia harus menjadi poros utama.

Hasan Hannafi berpandangan bahwa Ilmu tauhid yang teosentris dan tidak antroposentris banyak berujung pada krisis kemanusian. Oleh karenanya, teologi Islam yang dianggap sebagai krisis harus dihilangkan dan digantikan dengan teologi antroposentris yang bersifat responsif terhadap realitas kontenporer.

Untuk menguatkan teologi yang antroposentris ini Hasan Hannafi menggunakan dua pilar dalam menegakkanya, yang pertama adalah keharusan merumuskan ideologi yang memiliki identitas yang jelas di tengah-tengah pergumulan ideologi-ideologi kontenporer yang berpijak di atas realitas. Yang kedua adalah keharusan menegakkan kebebasan dan toleransi.

Menurut hemat penulis apa yang dilakukan oleh Hasan Hannafi dengan ingin menggeser teologi yang teosentris ke teologi yang antroposentris adalah suatu terobosan yang menarik yang dapat dijadikan suatu alternatif dalam memahami teologi dalam Islam.

Walapun pemikiran Hasan Hannafi ini mendapatkan banyak kritik dari sesama sarjana muslim, yang berperpandangan bahwa pemikiran Hasan Hannafi yang ingin mengalihkan teologi Islam dari teologi teosentris ke teologi antroposntris ini mengadopsi dari pemikiran filsuf Perancis, Rene Descartes. Dengan memilih filsafat rasional, Descartes telah mengalihkan kebudayaan barat dari teosentris ke antroposentris, dengan itu beliau berharap kesadaran manusia akan tumbuh maksimal.

Walaupun demikian, pemikiran Hasan Hannafi ini memberikan suatu terobosan dan pandangan baru terhadap tauhid dalam Islam, Karena bagaimanpun Tauhid adalah hal yang penting untuk dipelajari, sehingga pemahaman yang konfrehensif mengenai ilmu ini akan menghindari masyarakat untuk terjebak dalam paham radikal, serta pemahaman yang komprehensif mengenai ilmu ini akan membawa masyarakat untuk bertindak moderat dan toleransi.

Dengan demikian maka penegakkan kalimat tauhid adalah sebuah kewajiban, akan tetapi dalam penegakan kalimat tauhid ini harus mengutamakan nilai kemanusian, jangan sampai terjadi penindasan terhadap manusia untuk memperjuangankan hal ini. Yang perlu dilakukan adalah menegakan kalimat tauhid serta memperjuangan kemanusian secara seimbang. Yang terpenting dari Tauhid adalah ketuhanan dan kemanusiaan.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.