Header Ads

insan

Strategi Gusdur dalam Memperkuat Bangsa


oleh Ibnu Badri


Memahami pemikiran Gusdur bukanlah hal yang mudah, kita semua tahu bahwa pemikiran gusdur begitu luas seperti lautan tak bertepi yang mencangkup banyak aspek, mulai dari politik, sosial, budaya, ekonomi, islam, ideologi.

Penulis mengamati bahwa gaya tulisan Gusdur dalam kolom-kolom di berbagai media seperti gaya penulisan Turast Islami. Penulisannya simpel dan singkat tapi sangat luas untuk dijabarkan makna dan pengertianya, tulisannya sangat terikat dengan kaidah-kaidah bahasa, sehingga setiap kaidah diintrepretasikan berbeda oleh setiap pembaca, namun tetap proporsional dan mudah untuk dipahami.

Penulis ingin mencoba untuk mengintrepetasi pemikiran Gusdur dalam aspek politik khususnya pemikiranya tentang strategi konsolidasi memperkuat bangsa.

Hari ini, kita sebagai warga negara bisa melihat dan menyaksikan bagaimana politik identitas dan politisasi agama mewarnai demokrasi indonesia. Tak pula hal ini dapat menyebabkan meningkatkan radikalisme dan perpecahan dilini bangsa. Hal seperti inilah yang dirisaukan Gusdur akan masa depan keutuhan negara Indonesia.

Ketika Gusdur masih hidup, Beliau memandang bahwa bangsa Indonesia setelah masuknya organisasi transnasional radikal yang anti pancasila dan ingin menjadikan Indonesia sebagai khilafah Islamiyah dalam keadaan rawan perpecahan dan tindak kekeraan, hal ini banyak disebabkan banyak faktor, salah satu faktornya adalah pendangkalan pemahamam masyarakat Indonesia tentang Islam dan adanya usaha legalisasi sistem islam pada negara indonesia.

Gusdur berpandangan dengan masifnya pendangkalan pemahaman masyarakat akan ajaran agama yang diyakini, akan menyebabkan Indonesia rawan konflik berbau SARA. Bahkan Gusdur tidak begitu heran kalau terjadi kekerasan di Maluku, Poso, Aceh dan Sampit.

Gusdur sangat mengutuk tindakan peledakan bom di Legian, Bali. karena itu berarti pembunuhan atas begitu banyak orang yang tidak bersalah, walaupun mengutuk, tidak berarti beliau heran atas terjadinya peledakan bom itu. Karena dalam pandangannya, hal itu terjadi akibat para pelakunya tidak mengerti, bahwa Islam tidak membenarkan kekerasan dan diskriminatif.

Gusdur juga orang yang paling pertama menolak adanya legalisasi sistem Islam dalam negara karena baginya, tidak ada konsep khilafah dalam Al-Quran oleh karenanya Beliau berpendapat dalam pandangan Islam tidak diwajibkan adanya sebuah sistem Islam, ini berarti tidak ada keharusan untuk mendirikan sebuah negara Islam. Beliau memandang bahwa yang terpenting dari ajaran Islam adalah subtansinya dalam setiap lini kehidupan, itu artinya ajaran Islam menjiwai setiap aspek kehidupan.

Melihat keadaan bangsa seperti ini Gusdur mulai melakukan langkah konsolidasi untuk memperkuat bangsa Indonesia dari perpecahan. Langkah pertama yang gusdur lakukan adalah melakukan silaturahmi dan komunikasi dengan berbagai pihak, baik didalam negeri maupun diluar negeri.

Hal ini terlihat dari Gusdur bersilaturahmi dan berdialog dengan semua elemen bangsa tanpa memandang suku, agama dan budaya. Salah satu contohnya adalah Gusdur mau berdiolaog dengan warga Papua untuk menghindari pemisahan papua dari Indonesia. Pendekatan dialog diambil oleh Gusdur agar warga papua tidak merasa tertindas dan merasa dihargai,  karena upaya perdamaian papua oleh pemerintah sebelumnya selalu dilakukan dengan pendekatan militer.

Upaya silaturahmi dengan pihak luar banyak dilakukan oleh Gusdur ketika Beliau menjadi Presiden Republik Indonesia, selama dua puluh satu bulan menjadi presiden, Gusdur melakukan kunjungan dan komunikasi sebanyak lebih dari 50 kali keberbagai negara di lima benua untuk melobi dan meyakinkan negara lain bahwa kondisi Indonesia kondusif, walaupun langkahnya ini mendapat banyak kritik dari berbagai pihak, dikarenakan pemborosan anggaran yang mencapai 150 milyar tapi Gusdur menjawabnya dengan jawaban yang sepele eksistensi Indonesia dimata dunia harganya lebih mahal daripada biaya itu.

Langkah kedua yang diambil Gusdur adalah melakukan komunikasi dan dialog dengan berbagai agama untuk mencari nilai Universal, Gusdur meyakini bahwa setiap agama mengajarkan kebaikan dan perdamaian serta tiada agama satupun didunia yang mengajarkan kekerasan dan terorisme. Sehingga karena langkahnya ini Gusdur sering keluar masuk gereja. Langkah inipun mendapat kritikan yang begitu tajam dari Dr. Yuzril Ihza Mahendra, Ia mengganggap langkah Gusdur menunjukan antek Yahudi dan Nasrani.

Langkah terakhir yang dilakukan Gusdur untuk memperkuat bangsa Indonesia adalah dengan selalu mendukung dan menolong kaum minoritas serta sering melakukan silaturahmi terhadap berbagai Kyai, tokoh masyarakat di kelas kampung, hal ini karena Gusdur menyadari bahwa Kyai dan tokoh masyarakat adalah orang yang sering berinteraksi dengan masyarakat. Mereka inilah yang berperan besar dalam membentengi pemikiran masyarakat dari paham radikal yang akan mengganggu keutuhan bangsa Indonesia.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.