Header Ads

insan

Ku Benci Hujan



Aku menatap keluar kaca. Kulirik jam, sudah pukul tujuh malam. Aku menghela napas entah untuk keberapa kalinya selama dua jam aku duduk di kafe ini. Espresso- ku sudah mulai dingin dari satu jam yang lalu. Tapi entah, aku enggan beranjak dari tempat ini. Duduk sendiri, menatap orang – orang yang berjalan berlalu lalang di depan kafe. Aku selalu nyaman berada disini. Kenapa tidak? Tampat ini penuh kenangan. Di tempat ini aku bertemu dengannya.
Aku memutuskan untuk pulang karena Mama berkali – kali menelpon menyuruhku segera pulang. Aku tidak membawa obatku. Setahun terakhir aku mengonsumsinya. Saat akan beranjak beridiri, tiba – tiba hujan turun. Pertama hanya rintik – rintik saja, namun makin lama makin deras. Aku mematung menatap keluar kaca kafe. Aku menghela napas lagi. Hujan. Awalnya aku membenci hujan. Aku benci karena harus kebasahan dan itu pasti membuat repot. Aku selalu menggerutu jika langit sudah mulai menunjukkan tanda – tanda akan turun hujan. Tapi semenjak mengenal dia, aku suka hujan. Dia bertanya kepadaku ketika kita bertemu di kafe ini . “Kenapa kamu benci hujan, Nar? Hujan itu sesuatu yang istimewa. Teramat istimewa malah”. Dia tiba – tiba menarikku ke luar. Lihatlah, dia tertawa lebar. Menggenggam erat tanganku. Tanpa sadar setetes air mata jatuh dari mataku. Ya Tuhan, aku rindu dia. Sungguh. Maafkan aku yang masih merindukannya. Berat sekali hati ini untuk terus menggenggam janji yang kuucapkan satu tahun lalu sebelum dia pergi,
Satu tahun yang lalu.
Sudah pukul setengah delapan malam dan sopirku belum juga menjemput ke kantor. Aku sudah lapar sekali dan kakiku seperti mau copot setelah kerja penuh seharian. Ada pergantian direktur dan semua harus ditata ulang. Ya Tuhan aku lapar sekali. Aku berpikir sejenak. Bukankah di depan kantor ada kafe? Cepat – cepat kulangkahkan kakiku keluar kantor. Buru – buru aku masuk ke kafe dan tanpa sadar menabrak seseorang. Mata kami bertatapan sejenak. “Kau tidak apa – apa? Maaf aku terburu – buru sampai tidak lihat jalan” Dia menatapku. “Tidak – tidak. Aku yang harus minta maaf karena menabrakmu barusan. Aku juga terburu – buru”. Aku bergegas mengambil tas yang jatuh dan mencari tisu untuk mengelap bajuku yang terkena tumpahan kopinya. “Astaga, bajumu kotor karena kopiku. Maafkan aku. Bagaimana kalau kutraktir sebagai ganti permintaan maafku karena membuat bajumu basah?” Dia mulai ikut sibuk membersihkan bajuku. Aku tertawa, menggeleng. Selama lima menit kami berdebat. Dia bersikeras untuk mentraktirku sampai memohon – mohon. Baiklah, sepertinya aku berhadapan dengan tembok kokoh. Aku tersenyum. “Baiklah, aku setuju.” Dia tertawa lebar. Lesung pipitnya kentara terlihat. “Nah, dari tadi dong. Kan tidak usah jadi pusat perhatian”. Dia mengulurkan tangan. Menyebut nama. “Aku Bara. Kau siapa? Dan omong – omong kau cantik sekali”. Astaga, apa katanya? Pipiku menghangat. Pasti sudah seperti tomat rebus. Sungguh aku malu sekali rasanya.
Itulah awal pertemuan kami. Kami mengobrol panjang lebar sampai kafe itu tutup. Bara teman mengobrol yang asyik. Dia selalu punya banyak lelucon entah itu lucu ataupun tidak. Tapi aku selalu tertawa tiap kali dia berusaha melucu. Kami menjadi teman akrab mulai saat itu. Kami jadi sering bertemu, dia sering mengantarku pulang, menemani makan sian, jalan - jalan. Aku selalu senang bertemu dengan Bara. Dengannya, aku seperti lupa dengan segala kesedihanku. Terkadang, Bara sengaja betul mengirim bunga mawar putih ke kantorku padahal kantor kami hanya terpisah tiga gedung. Bunga mawar putih lengkap dengan memo berisi tulisan singkat penuh gombal. Entah dia sedang kerasukan apa bisa menulis kata – kata seperti itu. Dan aku selalu tersenyum ketika membacanya. Bara tahu aku suka mawar putih. Entah bagaimana dia bisa tahu padahal aku belum memberitahunya. Suatu hari aku bertanya. “Bar, bagaimana kamu tahu aku suka mawar putih?” Dia tertawa. “Hei, apakah itu penting? Yang penting bunga itu sampai dan kau suka. Kau suka kan, Nar? Ayolah mengaku, pasti kau senyum – senyum terus ketika menerima bunga itu kan? Sambil membayangkanku?” Aku menatapnya kesal. Aku bertanya serius dan dia malah bergurau. “Ayolah Nar, itu tidak penting. Kau suka kiriman bunga – bungaku?” Aku tersenyum. Mengangguk. Aku selalu suka dan aku selalu menunggu kapan dia mengirim bunga lagi.
Kami hanya teman, tapi bahkan dia bahkan lebih perhatian dari yang kukira sebelumnya. Dia sangat khawatir saat aku tidak masuk kerja, dia riweh bertanya ke kantor sampai datang ke rumahku. Padahal hanya demam biasa. Dia mengomel panjang lebar karena aku tidak memberinya kabar sama sekali. Aku tersenyum. Dia terlihat sangat lucu jika sedang marah begitu. Aku menyentuh tangannya. “Aku baik – baik saja, Bar. Hanya demam biasa. Besok juga sudah sembuh”. Dia terdiam. “Kau tahu aku sangat khawatir. Walaupun hanya digigit nyamuk saja, aku tetap khawatir”. Aku tertawa. Suatu hari, di kafe yang sama, untuk pertemuanku dan Bara yang entah keberapa kami tidak menghitung. Dia tidak ceria seperti biasanya. Bara lebih sering diam dan menunduk. “Bar, ada apa? Ada masalah? Kamu tidak seperti biasanya”. Aku menyentuh tangannya. Dia menunduk lebih dalam. “Kamu bisa cerita apapun dan kapanpun kamu mau. Kita teman, bukan?” Dia mengangkat wajah, menatapku. “Nara, bolehkah aku berharap lebih dari sekedar teman? Aku mencintaimu, Nar.” Aku terdiam, menatapnya lekat – lekat. “Aku bahagia ketika bersamamu, aku tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkanmu, aku menunggu saat – saat bisa bersamamu. Aku mencintaimu”. Aku terdiam, perlahan tersenyum dan menyentuh tangannya. “Aku mencintaimu juga, Bar.” Bara tersenyum, namun aku tahu dia memikirkan sesuatu.
Hari itu hari tepat enam bulan kami bersama. Dia mengajakku makan malam. Dia bilang makan malam romantis di pinggir pantai. “Jam tujuh malam tepat aku menjemputmu, Nar. Tidak usah dandan berlebihan. Kau selalu cantik.” Dia menelponku dan aku tersenyum. Pukul tujuh tepat aku sudah siap di depan rumah. Walaupun sering bertemu dengannya, aku selalu saja merasa berdebar – debar. Aku gugup. Aku melirik jam, mengecek handphone. Tidak sabar rasanya. Namun, setengah jam aku menunggu, Bara tidak datang – datang juga. Mungkin dia sedang di jalan, macet. Ini kan weekend. Satu jam berlalu, aku mulai gelisah. Aku mencoba menelponnya tapi handphonenya tidak aktif. Pikiranku mulai kacau dan tanpa sadar aku menangis. Bara tidak pernah seperti ini sebelumnya. Dia selalu menepati janjinya.
Dua minggu sudah aku berusaha menghindari Bara. Dia berusaha menjelaskan kenapa dia tidak datang malam itu. Tapi alasannya jelas dikarang – karang. Tidak masuk akal. Namun, aku kasihan juga melihatnya galau seperti itu. Akhirnya kami bertemu di kafe biasa. Dia berkali – kali meminta maaf. Aku perlahan tersenyum. “Kau memaafkanku, Nar? Sungguh?” Aku mengangguk. Dia tertawa. Tiba – tiba langit mendung. Aku merengut. “Aku benci hujan”. Demi melihat wajahku, dia bertanya. “Kenapa kamu benci hujan, Nar? Hujan itu sesuatu yang istimewa. Teramat istimewa malah”. Dia tiba – tiba menarikku ke luar. Lihatlah, dia tertawa lebar. Menggenggam erat tanganku. “Aku suka hujan dan aku cinta Nara”. Dia berteriak dan kami jadi pusat perhatian. Aku berusaha menariknya pergi tapi dia malah diam. Lima detik kami bertatapan, dan dia memelukku. “Aku mencintaimu, Nar.” Dia berbisik. Ya Tuhan, aku bahagia. Sungguh.
Aku tidak pernah menyesal bisa mencintai Bara. Dan aku tahu dia sangat mencintaiku. Hari itu entah keberapa kami bertemu di kafe biasa. Di luar turun hujan. Kami mengobrol banyak hari itu. “Nar, apakah kau mencintaiku?” Aku menatapnya sejenak. Sebal. Apakah dia meragukanku? “Itu pertanyaan retoris, Bar. Kamu tahu jawabannya.” “Katakan, Nar. Apakah kau mencintaiku?” Aku tersenyum. “Sangat. Aku sangat mencintaimu”. “Maukah kau menikah denganku?” Demi apa aku sangat terkejut saat itu. Dadaku seperti ingin meledak. Aku kehabisan kata – kata. Aku terdiam. “Kenapa kau diam? Kau tidak mau menikah denganku? Jangan diam, Nar. Apapun jawabanmu aku akan siap. Sungguh. Lima menit aku menatapnya lagi. Aku menyandarkan kepala di pundaknya. “Aku mau, Bar”. Bara menoleh, tersenyum. Dia memberiku cincin.
Kami mempersiapkan segalanya. Bara memilih semua yang terbaik untuk pernikahan kami. Namun entah kenapa Bara malah semakin berubah. Bukan, bukan dengan sifatnya. Dia sakit. Aku tahu dia sakit dan itu tidak sakit biasa. Namun dia selalu mengatakan bahwa semua baik – baik saja. Dia selalu ceria seperti biasa. Aku semakin khawatir karena nyatanya dia seringkali tiba – tiba pusing. Malam itu aku memutuskan ke rumah Bara. Aku bertemu mamanya, Tante Nia. “Nara? Ada apa kesini, sayang? Bukankah baru tadi siang kalian mengurus undangan pernikahan?” Dan orang yang kutunggu muncul. “Tante, kami ingin bicara berdua. Bolehkah?” Tante Nia menatapku. “Baiklah, sayang. Tante buatan kalian minum”. Aku diam sejenak memandang Bara. Yang kupandangi sama diamnya. “Kamu sembunyikan apa dariku, Bar?” Dia diam. Menunduk. “Katakan. Kita hampir menikah. Aku tidak ingin pernikahan kita diawali dengan kebohongan. Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu”. Aku mulai menangis. Bara menatapku. Dia memelukku. “Aku takut kehilangan kau, Nar. Aku amat mencintaimu. Aku tidak apa – apa lagi. Biarkah aku mencintai dia, Tuhan”. Bara menangis.
Kanker otak stadium 3. Aku menangis tidak karuan mendengar penjelasannya malam itu. Aku memangis sejadi – jadinya. Bagaimana bisa? Dia baik- baik saja selama ini. Bagaimana bisa ia tidak bilang kepadaku? Karena ia takut kehilangan diriku. Ia takut aku meninggalkannya. “Sedangkal itukah kamu menilaiku. Bar? Aku mencintaimu apapun yang terjadi”. Aku menangis.. Kami sedang menikmati sore hari di pantai. “Aku takut, Nar. maafkan aku. Saat aku tidak menepati janjiku malam itu. Aku sakit. Sungguh maafkan aku, Nar.” Aku menangis lagi. “Berjanjilah padaku kamu akan sembuh. Berjanjilah padaku”. Saat itu pula matahari terbenam. Bara memelukku.
Dokter bilang Bara akan membaik jika ia rutin menjalani kemoterapi atau radioterapi. Juga rutin check up ke dokter yang menanganinya. “Aku akan baik – baik saja , Nar. Aku sudah meminta kepada Tuhan agar aku bisa melewati semua ini. Dan Dia mengirimmu kepadaku.  Apa yang harus kukhawatirkan?” Aku berusaha tersenyum. Aku tahu dia amat sangat menahan sakit. Tapi dia selalu berusaha terlihat baik – baik saja didepanku. Hampir tiap minggu aku menemaninya kemoterapi. Berikutnya radioterapi. Dia selalu semangat. Sebelum masuk ruangan, dia akan mengatakan “Nar, aku akan sembuh. Aku berjanji”.Dan aku seperti biasanya. Tersenyum menatapnya. Persiapan pernikahan juga sudah hampir matang. Aku mengusulkan agar pernikahan kami diundur sampai Bara benar  - benar sembuh dari sakitnya. Namun kesehatan Bara benar –benar semakin membaik. Aku bahagia sekali melihat perkembangannya selama ini. Dia benar – benar berjuang. “Aku berjuang untuk kita, Nar. Lihat undangan kita. Nara dan Bara. Cocok sekali bukan?” Dia tertawa. Aku memeluknya. “Apapun yang terjadi, aku akan selalu cinta kamu, Bar”.
Hari bahagia itu datang.  Sungguh aku merasakan apa yang sebelumnya belum pernah kurasakan. Serba gugup. Mama berkali – kali menenangkanku.”Tenang, sayang. Semua akan baik – baik saja dan berjalan lancar”. Aku mengangguk. Semua sudah mendekati sempurna. Bara membaik. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Tiba saat Bara harus mengucapkan janji suci pernikahan kami. Tiba – tiba ia diam. Tangannya mencengkeram erat tanganku. Tangannya basah oleh keringat. “Bar, kamu baik – baik saja?” Bara terdiam. Dan Ya Tuhan. Dia ambruk ke lantai. Pernikahan menjadi rusuh. Semua panik. Terutama aku. Aku berteriak – teriak tidak karuan. Menangis. Mama berusaha menenangkanku. Tante Nia berteriak agar sopir segera menyiapkan mobil. Saat itu juga kami membawanya ke rumah sakit.
Aku masih menangis di samping tempat tidur Bara. Aku tidak menyangka hal ini akan terjadi. Kondisi Bara buruk. Amat buruk. Sisa tumornya masih ada dan terus menyebar. Umurnya tidak akan lama lagi. Aku benar – benar shock. Baru kemarin dia berjanji semua akan baik – baik saja. Tidak ada jalan lain lagi. Terlalu sulit untuk sembuh. “Kita tidakakan tahu apa yang terjadi esok, Nar. Semua itu kehendak Tuhan. Semoga keajaiban bisa terjadi kepada Bara”. Dokter mengatakannya sambil menepuk bahuku.
Tiga hari berlalu dan Bara masih belum sadar. Saat aku sedang menemaninya, tiba – tiba tangannya bergerak. Matanya terbuka. “Nara, apa kabar?” Dia bertanya kabarku. Suaranya lirih. Aku menangis. “Hei, jangan menangis. Kau cantik sekali. Ini kan baju yang kau pakai saat kita pertama bertemu, bukan? Yang ketumpahan kopi milikku?” Aku mengangguk. Menahan tangis. “Dengarkan aku, semua akan baik – baik saja. Aku tidak akan ingkar janji”. Aku mengangguk lagi. “Letakkan kepalamu di dadaku, Nar.” Aku menurut. “Kau dengar detak jantungku? Sama seperti saat pertama aku melihatmu di kafe itu”. Aku berusaha tersenyum. “Kau tahu, Nar. Aku sangat bersyukur bisa mengenalmu. Walaupun hanya di waktu yang singkat. Aku bahagia sekali. Tuhan pasti sangat menyayangiku”. Aku tidak mampu mengucap satu katapun. Aku menahan tangis. “Izinkan aku bertanya, Nar. Apakah kau mencintaiku?” Aku mendongan menatapnya. Bara tersenyum. Aku tidak bisa menahan tangis ini lagi. Aku mengangguk. Bibirku bergetar. “Aku mencintaimu, Bar.”
Bara pergi untuk selama- lamanya. Aku tahu cepat atau lambat dia akan pergi. Yang aku tahu pasti Tuhan sangat menyayanginya. Begitu pun aku. Satu tahun yang singkat, aku tidak pernah menyesal bisa mencintai Bara. Dan aku tahu dia sangat mencintaiku.
                                                                                




 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.