Header Ads

insan

Janganlah Mati Sebelum Jadi Penulis


Oleh Ibnu Badri

Sebagai seorang santri dan pelajar, penulis berusaha untuk mengenal dan mencintai para ulama. Karena tanpa ulama bagaimana kita akan mengenal sang manusia agung, nabiyullah muhammad saw, bagaimana kita akan mengenal syariatnya yang indah, bagaimana kita akan meneladani ahklaq dan perilakunya yang sangat mulia. Sudah tidak asing lagi ditelingga kita tentang hadist “Ulama’ Warasatul Anbiya” bahwasanya ulama itu penerus para nabi. Sudah jelas bahwa nabi tidak mewariskan kepada ulama berupa harta benda melainkan ilmu dan budi pekerti.
Di sini kita akan mengenal dawuhnya (pesan dan perintahnya) ulama Indonesia yang pakar dalam ilmu hadist. Beliau adalah Dr. Mustafa Ali Ya’qub. MA. rahimahullah. Beliau adalah imam besar Masjid Istiqlal, Jakarta. Beliau juga pernah menjabat sebagai wakil ketua komisi fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dawuhnya beliau yang sangat fenomenal dan sangat menjadi tamparan bagi kita sebagai pelajar yang kurang gemar menulis adalah “Wala Tamutunna Illa Wa Antum Katibun” janganlah mati kecuali telah menjadi penulis. Beliau adalah ulama yang sangat istiqomah dan konsisten sebagai penulis ditengah kesibukannya sebagai mubaligh. Banyak sekali buku yang beliau tulis diantaranya: memahami hakikat hukum islam (terjemahan), imam bukhori dan metodologi kritik hadist (1991), haji pengabdi setan, dll.
Ditinjau dari segi Ilmu Balaghoh dawuhnya Beliau yaitu “Wala Tamutunna Illa Wa Antum Katibun”. Merupakan sebuah Iqtibasdalam kajian Ilmu Badi’Iqtibas adalah gaya bahasa yang mengutip redaksi Al-Quran dan Al-Hadist menjadi ungkapan kita dengan tanpa menegaskan bahwa kutipan itu berasal dari keduanya. Diketahui bahwa ungkapan tersebut merupakan potongan dari ayat Al-Quran surat Al-Imron ayat 102. Yang redaksi aslinya adalah “Wala Tamutunna Illa Wa Antum Muslimun”. Adanya penggantian kata muslimun dengan katibun.
Dari sini kita mengetahui bahwa beliau merupakan ulama yang hebat yang dalam berdakwah selalu menggunakan kata yang baik dan bijak. Selalu menggunakan keindahan bahasa baik secara lafald atau maknanya. Karena Beliau menyadari bahwa bahwa bahasa adalah cermin intelektual. Maknya beliau dalam berdakwah selalu menggunakan keindahan bahasa. Ini menunjukan bahwasanya beliau tidak hanya pakar dalam ilmu hadist tapi beliau juga menguasai banyak rumpun keilmuan yang lain. Inilah yang harus dicontoh oleh para pembelajar Indonesia jadilah pakar dalam suatu kajian ilmu tapi juga bisa memhami keilmuan yang lain. 
Sebenarnya apakah maksud dari perkataan beliau dengan penggantian kata muslimun dengan kata katibun..? untuk memahami ini kita harus melihatnya dari Ilmu Semantik dan IlmuSemiotika dan Ilmu Gramatika.
Dilihat dari Ilmu Semiotika penggantian kata muslimun ke katibun merupakan sebuah tanda. Jika kita mendengar sebuah tanda lantas apakah yang menjadi petandanya. Disinilah dawuhnya Beliau memiliki makna yang sangat dalam. Penulis mencoba ingin mengintepretasikan hal ini yaitu, bahwasanya seorang muslim jangan sampai meninggal sebelum jadi penulis. Tandanya seorang muslim ya menulis. Muslim adalah tanda, pengenal dan identitas dan salah satu penanda sebagai seorang muslim adalah menulis. Dengan menulis kita akan hidup selamanya walaupunn raga kita telah lama meninggal. Jadilah muslim yang produktif menulis jangan sampai sebagai seorang muslim mati sebelum waktunya mati. 
Dilihat dari Ilmu Semantik kata katibun memiliki makna yang mendalam. Secara bahasa dalam KamusAl-Wasit kata katibun memiliki arti orang yang sibuk dengan aktivitas menulis kalimat indah atau orang yang menjadikan kegiatan menulis dan administratis sebagai teman hidupnya. Dari sini kita mengetahui bahwasanya dengan menjadi penulis kita akan menyibukan diri dengan berbagai kegiatan menulis seperti membaca, menyimpulkan dan menganalisa suatu bacaan. Dengan aktifitas menulis waktu kita akan habis untuk hal yang bermanfaat dan jelas akan mengurangi hal-hal yang bisa menjerumuskan kita kepada suatu yang negatif. Dengan kegiatan menulis kita pasti akan rajin membaca. Dan dengan membaca pasti berpengetahuan luas. Bukankah itu tujuan dari proses belajar…?.
Dilihat dari Ilmu Gramatika ungkapan tersebut memiliki keindahan susunan kalimatnya. Lihatlah kata “La Tamutunna” disini adanya Nun Taukid Tsakilah yang artinya adanya penguatan dalam suatu kata. Jadi arti yang tepat adalah jangan benar-benar mati kalian sebelum jadi penulis. Dan juga kata “katibun” merupakan kata Jama’ yang menunjukan makna banyak yang artinya tidak hanya terbatas menjadi penulis dalam satu fans keilmuan melainkan bebas menjadi penulis apapun. Dan dalam ungkapan tersebut ditemukan adanya La Nahiyah (larangan) bertemu dengan Ististna’(pengecualian). Itu artinya larangan tersebut dihapuskan, jadi artinya menjadi benar-benar matilah kalian setelah menjadi penulis.
Dari sini kita bisa mengetahui bahwasanya Dr.Ali Mustafa Ya’qub.,MA menyuruh kepada kita khususnya para pembelajar untuk terus berkarya dan menulis.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.