Header Ads

insan

Empat Mata Rantai Tasawuf


Tasawuf adalah mata batin suatu agama. Segala yang diajarkan oleh agama berujung pada nilai-nilai tasawuf. Bahkan Rasullah pernah menyampaikan “Syariah [fiqh] Tanpa Tasawuf, Fasiq”. Pengertian lebih dalam lagi, Tasawuf adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menjernihkan jiwa, memperbaiki akhlaq, serta memurnikan pola pikir dari segala kepentingan selain Allah.

Dalam sejarah Islam, pada awalnya Tasawuf merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi). Namun, seiring dengan perkembangannya, Tasawuf melahirkan tradisi mistisme Islam.

Tasawuf terfokus pada sisi-sisi batin dari segala kegiatan keagamaan. Selain itu, Tasawuf juga memiliki visi untuk menemukan hakikat dari segala apa yang manusia kerjakan. Namun demikian, akhir-akhir ini Tasawuf mulai terlembagakan. Bahkan banyak orang yang memahami Tasawuf dengan hanya sebatas pada amalan-amalan wirid tertentu.

Nah, tulisan ini menerangkan pengertian Tasawuf secara utuh beserta pembagiannya. Ibn al-Arabi seorang filsuf mistik paling terkemuka, membagi empat tingkat praktek kegamaan yang dilakukan oleh mansuia. Pertama, syari’ah (segi esoterik hukum-hukum agama). Kedua, thariqah (sebagai jalan mistik). Ketiga, haqiqah (mengenai kebenaran). dan keempat adalah ma’rifah (gnosis, pengalaman kesatuan dengan Yang Ilahi).

Keempat tingkat ini memiliki pradigma berpikir dan ketentuan masing-masing. Pada tingkat syari’ah, ada pola pikir fiqhiyah yang tidak bisa dipisahkan dengan hukum-hukum dlahir. Sehingga dari itu, bila berbicara soal syari’ah, maka yang tampak adalah hukum-hukum logis dan indrawi. Seperti halal-haram, suci-najis bahkan [kata] milikmu dan milikku. Dan hukum-hukum ini mengatur hubungan antar pribadi dengan pribadi lain dan atau satu pribadi dengan kelompok.

Setelah melalui syari’ah, seseorang mesti mulai beralih pada jalan thariqah. Pada tingkat ini, seorang hamba mulai masuk pintu pertama dalam perjalanan Sufi. Pada tingkat ini pula seseorang mulai membuka mata batinnya untuk tidak sekedar mencukupkan pada ibadah-ibadah mahdla yang bersifat dlahiriyah. Praktek-praktek keagamaan dimaknai sebagai jalan (thariqah) untuk menuju Allah. Sehinga dari itu segala ibadah dan praktek keagamaan yang mereka kerjakan berhaluan pada “menggapai Tuhan”. Karena itulah seorang salik tidak lagi mementingkan hal-hal dlahiriyah dan indrawi belaka. Akan tetapi ada subtansi yang mereka targetkan, menjumpai Tuhan. Dan selama perjalanan ini pula, seorang salik dibimbing oleh mursyid-nya.

Setelah itu, seusai seorang ‘abid menapaki segala bentuk thariqah, [sebelum benar-benar menggapai Tuhannya] ia akan berkelana di dunia haqiqat. Di alam baru inilah segala yang ada, yang tampak di pelupuk mata hanya akan menjadi bayang-bayang semu. Yang tampak adalah tidak ada, yang “ada” hanyalah ada itu sendiri. Sebab, segala yang tampak secara dlahir hanya menjadi pelampiasan dari predikat “ada”. Maka, pada posisi ini, ia benar-benar melihat hakikat dari segala sesuatu. Bahkan praktek-praktek keagamaan yang ia kerjakan, benar-benar digumuli dengan melihat “sesuatu” dibalik dlahirnya. Yaitu Tuhan, pemilik segala bentuk dan predikat dlahir.

Dunia haqiqah adalah duania persinggahan antara thariqah dan makrifat. Seorang hamba yang benar-benar menggauli dunia ini akan lupa pada dunia dlahir. Bagi al-Ghazali, seorang hanya akan sampai pada dunia haqiqah ketika ia banar-benar dapat menyingkap hal tersirat dari segala yang tersurat. Bagi al-Ghazali, setaip segala yang tampak tak ubahnya hanyalah tanda-tanda untuk menunjukkan yang tersimpan dari segala yang ada. Baginya, dunia ini hanyalah bayang-bayang semu yang oleh Tuhan dijadikan tanda-tanda akan hakikat dirinya.

Sedangkan tingkat keempat adalah ma’rifah. Pada tingkat gnosis (ma’rifah) yang ada benar-benar tidak ada. Tak ada kata sayadan tak ada Anda”. Yang ada hanya Allah. Seorang Sufi akan merasakan pengalaman bahwa yang ada seluruhnya adalah Allah. Dan tidak ada satu pun yang terpisah dari Allah. Pengalaman ini, adalah pengalaman mistik yang sekarang sering disebut panenteisme”. Atau dalam istilah Tasawufnya dikenal dengan wahdatal-wujud (kesatuan keberadaan) dalam Sufi Falsafi dan dalam Tsawuf dikenal dengan sebutan mukasyafah.

Keempat tingkat ini adalah perjalanan, dan menjadi tujuan Sufisme, di mana pengalaman sebelumnya mendasari pengalaman selanjutnya. Maka tidak heran dalam keberagamaan tasawuf ini, pengertian yang mendalam mengenai “jalan hati” (the path of heart)-yang tidak lain adalah jalan kepada cinta, (the path to love) mendapat perhatian, sehingga sisi-sisi spiritual-psikologis menjadi begitu penting dalam jalan ini. Khususnya dalam mencapai tingkat kedirian (nafs) yang dengannya mengantarkan mereka pada pengalaman kesatuan dengan yang Ilahi.

*adalah alumni PP. Annuqayah yang sedang menempuh pendidikan Pasca Sarjana di UNUSIA Jakarta.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.