Header Ads

insan

Peradaban Islam Negeri Di Atas Awan

oleh Ibnu Badri

Bagi penulis yang tidak belajar ilmu sosial, mendefinisakan bahwa peradaban adalah pola kehidupan dalam berbagai aspek yang berjalan ditengah masyarakat dalam tempo waktu yang cukup lama, peradaban itu mencerimankan perilaku pola aktifitas suatu masyarakat, Peradaban sangat dipengaruhi oleh tempat, kondisi alam, ekonomi dan budaya.

Penulis menyadari betapa sulitnya suatu peradaban itu terbentuk, akan tetapi pastilah sebuah peradaban itu ada yang mengawali kemudian seiring dengan berjalannya waktu mengalami penyesuaian, atau bahasa lain mengalami pembaharuan.

Sebagai gambaran tradisi tasyakuran (Genduren) yang banyak dilakukan oleh masyarakat Jawa, biasa menggunakan makanan yang sudah masak kemudian dibagikan ke para tetangga, penulis mengamati pola ini sudah berlangsung sejak lama, tidak tau kapan pastinya tradisi ini mulai berjalan, dan siapa yang pertama kali melakukan hal ini.

Ada sebagian pendapat hal ini merupakan tradisi masyarakat jawa yang suka akan sesaji, mereka melakukan itu sebagai rasa bersyukur atas kebaikan-kebaikan yang tuhan berikan, seperti panen raya. Akan tetapi tradisi ini kemudian berbaur dengan ajaran Islam, kemudian ajaran Islam memberikan ruh bagi tradisi ini, sehingga acara tasyakuran diisi dengan hal yang positif, seperti membaca maulid, akan tetapi dalam ajaran Islam pun sangat mengajarkan rasa syukur dengan berbagi kepada para tetangga, menolong sesama, ada atau tidaknya tradisi ini sebelumnya. akan tetapi berjalanya waktu, tradisi ini mengalami pembaharuan, yakni dengan menggunakan sembako yang dibagikan ke para tetangga, perubahan dari masakan ke semboka menunjukan tabiat kemanusiaan yang menyukai hal yang praktis dan efisian akan tetapi tidak melupakan hal yang paling esensi yaitu bersyukur.

Kenapa penulis mengemukakan judul peradaban negeri diatas awan, karena penulis melihat pola kehidupan bermasyarakat di desa yang paling tinggi di pulau Jawa, yaitu Desa Sembungan, Kecamatan Kejajar, Wonosobo yang berada di ketinggian 2.306 Mdpl. Tentu saja peradabadan disini sangat dipengaruhi oleh tempat, selain tempatnya tinggi, udara disini sangat dingin, sehingga sebagian orang mengatakan bahwa tempat ini dengan sebutan negeri di atas awan.

Ketika penulis berkunjung di tempat ini, penulis menyadari betapa besar rahmat Allah kepada mahluknya, penulis merasakan kehangatan luar biasa ditengah dinginnya udara, keramahan orang disini membuat siapapun betah untuk berlama-lama di daerah ini, tradisi dalam menyambut tamu juga sangat luar biasa, sehingga ada istilah belum boleh pulang sebelum makannya dihabiskan, yang membuat unik adalah ruang kehangatan keluarga itu bukan di ruang tamu dengan menonton tv, akan tetapi ruang kehangatan keluarga itu ada di Pawon (dapur), hal ini disebabkan udara yang dingin sehingga setiap orang berkumpul di Pawon untuk menghangatkan diri didepan tungku dengan nyala api yang menghangatkan, sehingga tidak heran jika ada tamu yang berkunjung akan diarahkan ke Pawon bukan keruang tamu, hal ini sangatlah wajar, mengingat udara yang sangat dingin.
Hal lain juga yang menjadi ciri orang disini adalah mereka sangat terbiasa dengan minum teh, jadi tremos-tremos mereka bukan berisi air panas, akan tetapi berisi air teh. Hal ini ada kesamaan dengan peradaban di eropa yang terkenal dengan udaranya sangat dingin sehingga mereka menjadikan tungku perapian di setiap ruang tamunya, dan menjadikan anggur sebagai minuman penghangatnya. Berbeda halnya dengan disini, walaupun sama udara dinginnya, orang disini menjadikan Pawon sebagai ruang keluarga dan minuman teh sebagai penghangatnya.

Hal yang paling unik juga bagi penulis adalah mereka terkenal suara adzanya yang sampai dua jam, mungkin bisa dikatakan merupakan terpanjang didunia, yang dimaksut penulis disini bukan adzan selama 2 jam, akan tetapi adzan yang bersambung-sambung sehingga kalau diurut bisa mencapai dua jam, katakanlah waktu masuk sholat ashar adalah jam tiga, jika di kota Wonosobo tepat dikumandangkan adzan jam tiga, semakin berjalan kearah barat, ke arah Dieng, adzanya semakin bertambah waktunya, jadi di Dieng kita masih mendengar adzan jam 5.00an, hal ini dikarenakan faktor mata pencaharian sebagian besar orang sini adalah petani, sehingga adzanya pun mengikuti pola rutinitas masyarakat, jam 3 para petani tengah sibuk disawahnya, biasanya mereka baru pulang dari sawah sekitar jam empat, sampai rumah mereka bersih-bersih dan pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat berjamaah, di kampung halaman penulis biasanya dikumandangkan adzan jam 4.30. Bisa diibarakan apabila kita menaiki kendaraan dari kota Wonosbo menuju Dieng yang jarak tempuh 45 menit, selama dalam perjalanan kita akan mendengarkan suara adzan. Inilah lokal wisdom yang dimiliki bangsa kita, sudah selayaknya kita menjaganya dan mempertahankanya.

Dari sini penulis menyadari bahwa ajaran Islam itu sangat indah, ajarannya bisa menyatu dengan tradisi, tanpa kehilangan esensinya, bisa dikatakan ajaran Islam itu menjadi ruh bagi setiap tradisi, ajaran Islam itu bisa menyesuaikan zaman dan waktu, sholih likulli zaman wal makan, ajaran Islam yang menghargai budaya lokal adalah kekhususan Islam bangsa indonesia, yang Nahdhotul Ulama menyebutnya dengan Islam Nusantara.

Sebagai muslim, kita tidak hanya mempunyai tugas dakwah untuk mengislamkan nusantara akan tetapi yang lebih penting yaitu menusantarakan Islam, seperti bolehlah kita menyebut sholat dengan sembahyang, masjid dengan langgar, sehingga peradaban kita tidak tercabut dari akar budayanya tetapi juga selaras dengan ajaran Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW.

Kita boleh mengganti nama sholat dengan berbahasa jawa, yaitu sembahyang, akan tetapi kita boleh mengganti cara sholat yang tadinya berbahasa Arab dengan bahasa jawa. ajarankanlah intisari ajaran secara kaffah sehingga mereka bisa melihat bahwa Islam itu indah bukan seperti apa yang mereka citrakan selama ini, terlebih setelah kejadian 11 september itu.

Penusantaran Islam itu bukan terjadi di negeri kita saja, penulis mengamati adanya penturkian Islam dimana nama sholat dirubah semuanya menggunakan bahasa Turki akan tetapi cara sholatnya masih seperti yang diajarkan nabi, orang turki menyebutkan kata sholat dengan Namaz, Oruc untuk puasa, Abdes untuk wudhu, Ogle sholat dhuhur, Ikindi untuk ashar, Aksam untuk mahrib, Yatsi untuk isya’ dan Sabah untuk penyebutan sholat subuh.

Penulis yakin bahwa ajaran Islam sangat bisa menyesuaikan zaman dan tempat, asalkan para pemeluknya mampu menerjemahakan kospmopolitan ajaran Islam dan menghargai setiap tradisi dan peradaban.


Peradaban negeri diatas awan menunjukan sebuah peradaban besar yang sangat bersesuaian dengan ajaran Islam dan merupakan anugerah tuhan yang wajib disyukuri oleh karenanya kita wajib menjaga apa yang kita punya, bukan malah bermetamorfosa menjadikan peradaban negeri sebelah sebagai peradaban yang diekori, bukankah mempertahankan itu lebih sulit dari pada meraihnya...?

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.