Header Ads

insan

Cintaku Berakhir Tragis

 Karya; Nur Faidah “Pinky Girl’s”*

Fajar menyingsing dari ufuk timur. Aku terdiam, menghapus wajah lusuhku yang baru datang dari istana mimpi, aku menghela napas perlahan, bertanya perlahan-lahan “Mengapa dia kekasihku Aryo tak mengabariku pagi ini?”
Selang beberapa menit seusai aku beres-beresaku meraih Hp-ku namun tak jua ada telfon maupun sms darinya dan aku pun memutuskan untuk menghubunginya.
Dhut... dhut... dhut... lalu terdengar suara dari seberang sana namun suara itu asing bagiku
“Assalamu’alaikum...”
“Wa’alaikum salam... Maaf orangnya tidak ada!” lalu dari seberang sana memutuskan telefonku.
Mutiara-mutiara air mata berjatuhan dari kelopak mataku, hati ini bertanya-tanya ada apa dengan dirinya.
Lamunanku dibuyarkan oleh dering hp-ku  yang menandakan ada pesan masuk. Langsung kuraih Hp-ku dan aku berharap pesan itu dari Aryo, ternyata benar pesan itu dari Aryo, betapa bahagianya hatiku, wajahku yang semula layu kini berbinar-binar bahagia, lalu ku bergegas membaca pesan itu.
Sebelumnya aku minta maaf
Aida, aku tidak bisa lanjutin
Hubungan ini lagi, kurasa
Cukup sampai disini saja
Rasa kecewa, sakit hati berkecamuk dalam hatiku, tak pernah terbesit dalam hatiku cinta kita pupus sampai disini. Tuhan... aku sangat menyayanginya, aku tak bisa hidup tanpanya. Dialah segalanya disela-sela do’aku, aku menangis tersedu-sedu seolah-olah aku menunjukkan wanita yang lemah dan begitu bodohnya mau saja diperbudak cinta, tapi aku tak pernah menyesal mencintainya, karena dialah cinta sejatiku. Dan biarlah cintaku mengalir seperti air yang tak berdosa.

***

Satu bulan telah berlalu tapi perasaanku masih saja tidak berubah, aku tetap mencintai Aryo mantan kekasihku. Entah berapa lama lagi cinta ini akan pupus dari hatiku, ataukah perasaan ini tidak akan pernah pupus hingga akhir hayatku.
Waktu terus bergulir seperti air yang terus mengalir dan waktu pula yang mempertemukan aku dengan Roby, pria tampan berkulit agak putih. Tapi, sayangnya dia masih duduk di bangku kelas 2 IPA. Sejak kehadirannya, perlahan aku bisa melupakan Aryo cinta sejatiku, laki-laki yang mutusin aku tanpa kutahu apa salahku, apa karena aku yang salah atau terjadi kesalahpahaman. Entahlah... lagi-lagi aku mengingatnya. Kapankah memori luka di hatiku tidak berbekas lagi?

***
 
11 Agustus 2013
Roby pria tampan berkulit agak putih itu mengutarakan perasaannya bahwa ia mencintaiku. Tuhan... aku harus bagaimana? Disatu sisi aku masih mencintai Aryo mantanku tapi di sisi lain aku juga mempunyai rasa padanya. Hemmm... aku belum bisa menjawabnya.
13 Agustus 2013
Roby mengutarakan kembali perasaannya, “Masih ingatkah dengan pertanyaanku?”
“Hemm...masih,”
“Terus aku jawab apa?”
“Setelah aku fikir-fikir iya aku mau jadi pacarmu.”

***

Hari berganti hari begitu pun bulan. Aku menjalani kisah cinta baruku bersama Roby dengan penuh kebahagiaan. Bunga-bunga asmara semakin mekar di hati kami, dan tak pernah aku sangka-sangka Aryo mantan kekasihku datang kembali dalam hidupku membawa segores luka baru yang lebih menyakitkan dari sebelumnya.
Lantunan lagu Souqy Cinta Stadium Akhir berdering di Hp-ku. Kak Afie memanggilku.
“Assalamu’alaikum,” kataku
“Wa’alaikum salam!” katanya dari seberang sana dengan cetusnya, “Dik Aida, dengar-dengar adik minta balikan sama Aryo, sampai-sampai Adik mengemis-ngemis cintanya.”
“Tuhan... cobaan apa lagi ini, kapan aku memintanya untuk kembali dalam pelukku,” ucapku dalam hati. Aku bungkam seribu bahasa. Aku tak bisa membahasakannya karena luka ini terlalu sakit untuk kueja, lalu ku putuskan telfonku, karena aku tak ingin kakakku Alfie, mendengar isak tangisku. Tangisku kali ini bukan tangis karena sakit hati. Tapi tangis ini karena malu, seolah-olah aku tak punya harga diri. Begitu teganya ia memfitnahku sekeji ini, apa salahku padanya? Lalu kuoretkan sakitku di atas kertas putih ini.
To; Aryo
Dosa apakah yang telah kutorehkan
Sehingga kau begitu tega memfitnahku
Luka yang kau goreskan dulu masih menganga di hatiku
Kini kau datang kembali membawa luka baru
Yang tak akan kulupakan dalam hidupku.


*Aktif di KOMPAS
Cerpen edisi XLVII, 11 Nopember 2013 M

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.