Header Ads

insan

4 Argumen Tentang Wujud Tuhan




Seperti yang telah disebutkan pada pendahuluan diatas tentang beberapa macam pembuktian filosofik yang berusaha membukakan jalan-jalan menuju Tuhan; yaitu pembuktian ontologis, kosmologis, teleologis, moral, maka para filsuf dalam melakukan pembuktian menuju Tuhan memakai pendekatan tersebut. Adapun penjelasan argumen pembuktian tentang Tuhan sebagai berikut:

Argumen Ontologis 
Pembuktian ini pertama kali diperkenalkan oleh Plato (428-348) dengan teori Idea-nya  Kemudian ada St. Agustinus, Anselmus (1033-1109) dan dari kalangan muslim ada Al-Farabi. Kami tertarik untuk membahas pemikiran Anselmus dalam teori ontologinya dalam argumentasi ketuhanan. Anselmus pada dasarnya atau awal ia menggunakan teori ini adalah ketika ia diminta oleh seseorang biarawan untuk menyusun argumen yang membuktikan adanya Tuhan atas dasar rasio dan tidak atas dasar kitab suci. Memenuhi permintaan ini, Anselmus menyusun argumen yang terkenal dengan sebutan argumen ontologi.

Secara kongkrit ajaran Anselmus Van Canterburi tentang kepercayaan dan akal telah dipergunakan sewaktu ia mengemukakan pembuktiannya tentang adanya Tuhan. Anselmus beranggapan untuk mengetahui bahwa Tuhan itu ada, dan bahwa Tuhan adalah yang tertinggi dari segala sesuatu yang dapat dipikirkan oleh manusia. Anselmus menginginkan kepercayaan atau keyakinan yang ditimbulkan oleh agama tumbuh menjadi pengertian dalam sebuah landasan keilmuan. Untuk memperoleh pendasaran epistemologis mengenai kepercayaan (intelectus Fidei) ini, Anselmus mulai dengan satu pokok pangkal, yaitu bahwa bagi setiap orang Tuhan itu berarti Yang Maha Tinggi dari segala sesuatu yang dapat dipikirkan oleh manusia.

Menurut Anselmus yang Maha Besar (yang Maha Tinggi) dari segala sesuatu yang dapat dipikirkan itu mustahil hanya terdapat di dalam alam pikiran saja. Sebab andai kata demikian halnya, sudah barang tentu dapat dipikirkan pula bahwa yang Maha Besar itu juga terdapat di dalam alam kenyataan, hingga dengan demikian yang Maha Besar itu makin menjadi yang Terbesar. Jadi tidak boleh tidak yang Maha Besar dan Maha Tinggi itu harus ada pula di dalam kenyataan. Dari hal inilah titik tolak argumen Anselmus melalui jalan ontologis untuk menuju Tuhan.

Menurut Anselmus suatu pernyataan adalah jelas dari dirinya kalalu predikatnya sudah tercakup dalam subyek (pernyataan analitis), apalagi untuk pernyataan yang predikatnya bertepatan dengan subyek (pernyataan identik). Dalam pernyataan Allah itu Ada, subyeknya: Allah atau Eksistensi Substansial Ilahi, sudah memuat predikat Ada, karena di situ termuat totalitas kesempurnaan-kesempurnaan; Tidak seorangpun menyangkal bahwa Eksistensi Tuhan sungguh-sungguh identik dengan essensi-Nya, bahkan lebih lagi eksistensi itu adalah secara formal adalah essensinya. Jadi nampaknya pernyataan Allah itu Ada, bagi yang mengerti artinya perkataan itu mempunyai kejelasan langsung yang sama dengan pernyataan ini, Kuadrat itu mempunyai empat sudut atau lingkarang itu bulat. Hanya saja essensi Tuhan, pada diri-Nya sendiri tidak dapat ditangkap oleh roh kita. Akibatnya kebenaran dari adanya itu tetap  sendiri tidak dapat ditangkap oleh roh kita, Akibatnya kebenaran dari adanya itu tetap tinggal tidak jelas secara langsung. Untuk menunjukkannya, kita memerlukan suatu perantaraan, suatu proses rasional.

Argumen  Kosmologis
Albertus Magnus (1193-1280) juga menolak argumen ontologi Anselmus dan sebagai gantinya ia mengajukan argumen kosmologi. Secara kongkrit, argumen ini mengatakan bahwa pembuktian ini pada dasarnya diperoleh mlalui observasi langsung terhadap alam semesta. Pembuktian ini sangat beragam, baik segi pendekatan maupun data-data yang diolah. Tetapi yang jelas pembuktian ini berangkat dari problematika yang terjadi di alam semesta, baik keteraturan, kejadian, peristiwa yang berlangsung di alam, sesungguhnya bukanlah terjadi secara kebetulan, tetapi ada yang mengatur. Pada akhirnya argumen ini sampai pada kesimpulan puncak bahwa yang mengatur itu adalah Tuhan Yang Maha pengatur. 

Argumen kosmologis ini pertama kali dicetuskan oleh Plato dengan melakukan pembuktian adanya tuhan berdasarkan dua macam gerakan yang ada di dunia ini. Yaitu gerakan asli dan gerakan yang digerakan. Gerakan asli hanya bisa dilakukan oleh wujud yang hidup, sedangkan gerakan yang digerakan tergantung pada gerakan dari wujud yang hidup. Plato menyatakan bahwa seluruh gerak alam semesta ini secara mutlak disebabkan oleh aktivitas sesuatu yang berjiwa. Wujud yang berjiwa inilah yang mengatur dan memelihara, sehingga disebut Maha pemelihara dan bersifat Maha bijaksana. Wujud yang hidup itu adalah Tuhan.

Pembuktian Aristoteles secara Kosmologis tentang adanya Tuhan, sebagaimana dalam karyanya Metaphysics adalah bahwa Tuhan dipandang sebagai penggerak pertama. Teori ini pada dasarnya berpangkal dari pemikirannya mengenai Hylemorphism, yaitu  materi (hyle) dan  bentuk (Morphe). Materi bersifat potensial, yakni mempunyai kemungkinan untuk berubah-ubah. Sedangkan bentuk bersifat aktual, tetap, tidak berubah-ubah dan yang memberi gerak pada materi. Keduanya  dihubungkan dengan gerak. Adanya gerak karena adanya  penggerak pertama yang tidak bergerak dan merupakan wujud yang tidak digerakkan. Semua tergantung dari diri-Nya, maka ia pastilah Tuhan.

Argumen Teologis
Pembuktian teolologis merupakan pembuktian yang lebih spesifik dari pembuktian kosmologis. Pembuktian ini pada dasarnya berangkat dari kenyataan tentang adanya aturan-aturan yang terdapat dalam alam semesta yang tertib, rapi dan bertujuan. Dengan demikian, secara sederhana, pembuktian ini beranggapan adalah: 1). Serba teraturnya alam memiliki tujuan, 2). Serba teraturnya dan keharmonisan alam ini tidaklah oleh kemampuan alam itu sendiri, 3) Di balik alam ini ada sebab yang maha bijak.

Apa yang bisa dicapai oleh pembuktian ini hanyalah adanya arsitek alam yang dibatasi pada adanya persediaan materi alam, dan bukan adanya pencipta alam dimana segala sesuatunya tunduk kepadanya. Berangkat dari realitas tersebut di atas, maka dengan memperhatikan setiap susunan alam semesta yang sangat tertib dan bertujuan dapat kita pastikan bahwa terdapat suatu zat yang Maha pengatur dan Pemelihara, sekaligus menjadi tempat tujuan dari alam semesta. Bukti teologis ini dianggap oleh para teolog maupun filosof sebagai bukti yang cukup kuat diantara bukti-bukti klasik lainnya.

Argumen Moral
Pembuktian moral mengenai adanya Tuhan merupakan pembuktian yang paling sahih dan dapat dipertanggung jawabkan secara rasional-intelektual diantara bukti-bukti lainnya tentang adanya Tuhan. Pembuktian moral ini pertama kali dicetuskan oleh Immanuel Kant yang merasakan bahwa pembuktian logis tentang Tuhan berdasarkan pada fakta kosmologis tidak dapat membawa pada kesimpulan yang cukup valid bahwa Tuhan itu ada. Itulah kritikan Kant tentang pembuktian Kosmologis. Untuk itu, Kant memberikan solusi melalui pembuktian moral. Menurut Kant perasaan manusialah yang dapat membuktikan dengan memuaskan tentang adanya Tuhan.

Selanjutnya, Kant memberikan penjelasan yang sistematis mengenai akal teoritis dan akal Praktis. Menurut Kant ada dua cara akal berhubungan dengan obyeknya. Pertama, akal mampu menangkap objek luar diri. Ini adalah akal teoritik. Kedua, akal dapat menciptakan konsep atau ide menjadi riel. Ini adalah akal praktis yang fungsinya mengadakan pilihan-pilihan moral dan merealisasikannya sesuai aturan-aturan moral yang ditetapkan oleh dirinya sendiri. Akal praktis atau the will of the rational being bertujuan mencapai summum bonum, yakni suatu kebaikan yang sempurna yang meliputi kabajikan dan kebahagiaan. Menurut Kant, Summum bonum adalah tujuan akhir yang ditetapkan sendiri oleh akal secara a priori, dan untuk mencapai itu manusia harus tunduk kepada moral. Setiap orang menyadari dirinya benar-benar terikat oleh aturan-aturan moral.

Aturan-aturan moral itu menuntut terpenuhinya summum bonum, dan hanya Tuhan saja yang bisa menjamin terpenuhinya ini dan itu pun tidak terjadi dalam kahidupan sekarang ini melainkan dalam kahidupan setelah sekarang ini. Oleh sebab itu, Tuhan pastilah ada. Tuntutan moral akan kehidupan bahagia membawa kita kepada keyakinan akan adanya eksistensi yang menjadi sebab bisa terpenuhinya tuntutan moral ini. Atau dengan kata lain, tuntutan moral bagi terwujudnya summum bonum memastikan adanya Tuhan sebagai Author atau Being yang mewujudkan summum bonum. Kesadaran bahwa Tuhan ini bersifat immanen (fitrah diri) yang berbeda di dalam kesadaran moral dan ini merupakan bukti yang cukup akan adanya Tuhan.

Dengan demikian, pembuktian moral secara ringkas dapat dikemukakan sebagai berikut : bahwa manusia memiliki perasaan moral yang telah tertanam dalam jiwanya sejak ia dilahirkan. Manusia merasa mempunyai kewajiban untuk menjauhi, perbuatan buruk dan menjalankan perbuatan baik. Perintah yang terdapat di sanubarinya ini bersifat mutlak dan universal karena perintah ini dirasakan oleh seluruh manusia, sehingga adanya kebajikan itu bersifat universal. Adanya perasaan universal ini membuat kita akan mampu melakukan ataupun menjauhi sesuatu yang baik dan buruk. Adanya perasaan ini membuat manusia melakukan kebajikan karena adanya zat yang akan memberikan balasan. Zat yang memberikan balasan inilah yang disebut Tuhan.

Setelah secara seksama memaparkan problematika falsafah metafisika ketuhanan cukup memberikan gambaran yang  dapat diberikan sebuah analisa sebagai berikut: Metafisika merupakan hal yang signifikan dan menjadi wacana diskusi filsafat ketuhanan sehingga hal itu merupakan tema penting dan global dalam kajian filsafat agama. Serta Geneologi struktur dari pola kajian dan model konseptualisasi Metafisika ketuhanan memiliki argumentasi-argumentasi yang signifikan dengan tema sentral tentang konsep realitas ketuhanan baik itu dari segi Ontologis, Kosmologis, Teologis, serta argumen Moral.

Dengan memperhatikan narasi paper ini, smoga upaya kecil dari deskripsi tersebut diatas menjadi tambahan inspirasi bagi para intelektual muslim untuk terus menggali nilai-nilai ilmiah  khususnya berkaitan dengan falsafah metafisika pemikiran Islam. Wallahu alam bis shawab.

*Adalah Alumni PP. Annuqayah Lubangsa yang sedang menyelesaikan Pasca Sarjana Islam Nusantara di UNUSIA Jakarta

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.