Header Ads

insan

Antara Ulama dan Penceramah


Oleh: Kyai Abdul Wahab Ahmad

Judul di atas barangkali aneh bagi banyak orang sebab di Indonesia keduanya seringkali dianggap identik. Kalau dikenal sebagai ulama ya diundang buat jadi penceramah, kalau jadi penceramah ya otomatis jadi ulama. Beginilah kebanyakan masyarakat kita memahaminya. Menjelang bulan Rajab yang mulia ini, saya ingin menulis tentang perbedaan keduanya.
Ulama secara bahasa adalah orang-orang berilmu, tak masalah ilmu apapun. Namun istilah ini kemudian mengalami penyempitan makna menjadi orang-orang yang menguasai ilmu agama Islam secara mendalam dan dengannya ia takut kepada Allah. Kata "Ulama" sebenarnya bentuk jamak, tapi di Indonesia juga digunakan sebagai bentuk tunggal. Dalam tulisan ini saya menggunakan istilah Indonesia sehingga kata "Ulama" sepadan dan setara dengan kata "Alim" yang berbentuk tunggal. Jadi, ada dua ciri utama seorang ulama: 1. Berilmu tinggi dalam bidang keislaman. 2. Tingkah lakunya menunjukkan bahwa dia takut kepada Allah.
Standar tinggi rendahnya ilmu seseorang ditentukan oleh pengakuan dari orang lain yang sebelumnya juga diakui berilmu tinggi. Jadi ukurannya bukan pandangan orang awam sebab mereka tak mengenal standar. Bagi orang awam, asal bisa menyebut dan menjelaskan beberapa hadis saja dan beratribut jubah, sorban, tasbih dan sebagainya sudah bisa dianggap ulama. Demikian juga orang yang mampu mendirikan yayasan pesantren maka otomatis dianggap ulama, meskipun soal pesantren sebenarnya bukan semata soal ilmu agama tetapi lebih tentang ilmu manajemen. Demikian juga anak kyai, biasanya ketika besar langsung disebut ulama oleh orang awam meskipun ilmu agamanya standar atau bahkan di bawah standar. Jadi, tolok ukurnya adalah pengakuan para ahli sebelumnya di bidang itu. Sama seperti halnya gelar "Chef" diperuntukkan bagi orang yang diakui kehebatan memasaknya oleh para ahli, bukan semata orang yang kata anak-anak atau tetangganya bisa masak enak.
Tentang standar ini, Imam adz-Dhahaby pernah berkata:
الجاهل لا يعلم رتبة نفسه، فكيف يعرف رتبة غيره؟ 
"Orang bodoh tak dapat mengetahui levelnya sendiri, maka bagaimana bisa dia tahu levelnya orang lain?".
Nah... Itu adalah pengertian ulama. Berat sekali syarat untuk itu. Sayang sekali bangsa kita kerap menyederhanakan masalah sehingga standar yang sejatinya tinggi diturunkan hingga ke level yang mengenaskan. Bahkan saya pun ada yang bilang ulama, ulama dari hongkong?.
Adapun penceramah berarti orang yang melakukan kegiatan ceramah. Tak peduli bagaimana level keilmuannya, yang penting bisa memberikan ceramah kepada orang lain maka dia layak disebut penceramah. Da'i juga sama, orang yang melakukan kegiatan dakwah (mengajak orang berbuat baik) berhak disebut da'i. Pengertian penceramah dan da'i biasanya dianggap sama.
Dalam istilah Arab, penceramah/da'i sebagaimana di kenal di Indonesia ada dua macam kategori sebagai berikut:
1. Wu'adh, yaitu para pemberi mau'idhah hasanah (nasehat yang baik) yang biasanya seputar masalah hati atau akhlak. Siapapun bisa memberi nasehat baik asalkan memungkinkan untuk melakukan itu sebab seluruh manusia selalu punya pengalaman baik untuk dibagikan. Enaknya, tak ada standar tertentu bagi sebuah nasehat baik. Materinya boleh apa saja, dalam atau dangkal, yang penting isinya baik maka sudah mencukupi syarat. Pemberi mau'idhah ini juga disebut sebagai da'i, khatib atau mudzakkir.
2. Qusshash, mereka adalah para tukang cerita. Keahlian mereka adalah lihai menyampaikan berbagai cerita di masa lalu serta mengajak orang belajar dari hikmah di balik cerita-cerita itu. Bentuk tunggalnya disebut "Qash". Sejak masa sahabat, para Qusshash sudah punya tempatnya sendiri untuk menyampaikan kisah-kisahnya di masjid. Biasanya, kehebatan mereka diukur dari seberapa menarik dan unik kisah dan penyampaiannya, bukan dari kevalidan cerita itu.
Sebutan wu'adh atau pemberi mau'idhah hampir selalu berkonotasi baik dan memang punya manfaat nyata, meskipun tak selalu identik dengan ilmu. Kritik untuk para wu'adh biasanya disebabkan ketidaktelitian mereka dalam memilih kualitas materi. Kitab-kitab khusus mau'idhah seperti Durrotun Nashihin dan Nuzhatul Majalis yang laris manis di kalangan para wu'adh bertaburan dengan kritik dari para ahli ilmu sebab hadis-hadis dan cerita di dalamnya banyak yang tak berdasar. Dapat diduga, penyebaran banyak hadis dlo'if di kalangan awam karena tindakan para wu'adh yang kurang selektif dalam memilih hadis.
Hal yang agak tragis menimpa orang-orang dengan julukan Qusshash. Tak sedikit dijumpai kritik para tokoh terhadap penceramah model tukang cerita ini. Berikut di antaranya:
Sahabat Ibnu Umar berkata: ما أخرجني إلا صوت قاصكم هذا (tak ada yang membuatku keluar [dari masjid] kecuali tukang cerita kalian ini)
Sayyidina Ali Bin Abi Thalib pernah berjumpa dengan seorang Qash (tukang cerita), Beliau bertanya kepadanya: "Apakah kamu bisa mengenal ayat Nasikh dari deretan Mansukh?", dia menjawab: "Tidak". Kemudian Sayyidina Ali berkata: "Kamu celaka dan mencelakakan".
Imam Malik berkata: و إني لأكره القصص في المسجد (Saya tak suka aktivitas bercerita di masjid)
Kritik terhadap para tukang cerita ini dijelaskan alasannya oleh Imam Ibnul Jauzi berikut:
والقُصَّاصُ لا يُذَمون من حيث هذا الاسم ، وإنما ذُم القُصَّاصُ لأن الغالب منهم الاتساع بذكر القَصَصِ دون ذكر العلم المفيد ، ثم غالبُهم يُخَلِّط فيما يورده ، وربما اعتمد على ما أكثره محال " انتهى (تلبيس إبليس).

"Al-Qusshash tak dicela sebab namanya [sebagai tukang cerita], tetapi hanya karena lumrahnya mereka longgar dalam menyampaikan cerita tanpa menyebut ilmu yang bermanfaat. Kemudian kebanyakan mereka mencampur apa yang mereka sampaikan [antara kisah yang asli dan bumbu-bumbu mereka sendiri] dan seringkali mereka berpedoman pada keterangan yang kebanyakan tak masuk akal". (Kitab Talbisu Iblis)
Ironisnya, inilah yang seringkali kita saksikan dan kita dengar di mimbar-mimbar kita. Lebih ironis lagi, kebanyakan masyarakat kita sukanya yang seperti itu sehingga kalau berceramah tanpa bumbu-bumbu yang dramatis, aneh, unik dan lucu maka akan jarang diundang. Kalaupun diundang, maka ditinggal pergi oleh jamaah dari baris belakang. Kalau pun tak ditinggal pergi, maka ditinggal tidur. Akhirnya, relasi para Qusshash kita dengan kebanyakan masyarakat membentuk semacam simbiosis mutualisme. Para Qussash merasa tak perlu mengubah apapun kecuali menambah bumbu-bumbu ceramah agar makin dapat diterima secara luas sedangkan para jamaahnya merasa sangat puas dengan itu.
Agar berimbang, perlu ditulis juga perspektif yang digunakan pengguna hadis dloif itu. Saya penah mendapat cerita dari seorang kyai kharismatik tentang seorang kyai dari pesantren besar di masa lalu yang mengajarkan kitab-kitab hadis tak jelas di pesantrennya meskipun dia tahu itu bermasalah secara keilmuan. Katanya: "Saya tahu kalau kitab-kitab itu mengajarkan hadis-hadis lemah tetapi kitab itulah yang membuat masyarakat di sini mau shalat. Saya dulunya memilih kitab-kitab mu'tabar saja, tetapi sulit sekali membuat orang giat beribadah. Begitu saya ganti dengan kitab tersebut, orang-orang mulai mau rajin shalat". Begitu kira-kira redaksinya yang saya ingat.
Hadis dloif dengan segala variannya memang kebanyakan "lebay" dalam menjelaskan pahala dan dosa hingga ke derajat yang sulit dinalar. Amal sederhana bisa punya puluhan tahun pahala ibadah sedangkan maksiat yang "reguler" bisa punya vonis yang begitu mengerikan seolah sulit ditaubati. Dan bisa ditebak, hadis berkonten "lebay" seperti itu memang cocok sekali bagi bangsa yang memang punya watak "lebay" ini.
Untunglah tren belakangan ini mulai berubah. Perlahan tapi pasti, mulai banyak komunitas yang memilih kajian ilmu serius daripada ajang stand-up comedy beratribut agama. Para ulama mulai didengar luas kembali seperti seharusnya. Para Qusshash dan Wu'adh mau tak mau harus menyesuaikan diri dengan tuntutan pasar yang lebih melek ilmu. Lucu boleh, tapi ngajak bodoh jangan.
Sebelum diakhiri, mohon tulisan saya ini jangan dipahami secara hitam putih. Dalam realistasnya, banyak pula ulama sejati yang jadi wu'adh/da'i sehingga pengajiannya benar-benar jadi pengajian. Berkisah dan bercerita pun tak musti dikesankan negatif sebab al-Qur'an sendiri mengajarkan supaya kita mengambil pelajaran dari kisah-kisah umat terdahulu. Asalkan materinya dipilah dan dipilih, silakan bercerita dan berkisah dengan cara yang semenarik mungkin selama tahu batas dan tak membuang waktu berharga para jamaah untuk sesuatu yang sedikit manfaatnya.
Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.